Berita


11 Sep 2019, 20:24
Tiga Frater Live in di Karang Panas Semarang

 Fr. Nicolaus Wahyu Sumunar, MSF

Cinta kasih di dalam hidup bersama menjadi lambang persekutuan Gerejawi. Salah satu wujud corak persaudaraan tersebut hadir melalui tarekat hidup bakti-religius di mana hidup berkomunitas beroleh relevansi khusus. Oleh sebab itu, para anggota hidup bakti diharapkan mampu memelihara persekutuan dan mempraktekkan spiritualitas persekutuan sebagai saksi dan perancang-rencana kesatuan, yang memahkotai sejarah manusia menurut rencana Allah.

Berdasarkan hal tersebut, Gereja St. Athanasius Agung Karang Panas mengadakan live-in panggilan yang diselenggarakan pada hari Jumat, 6 September 2019 sampai Minggu, 8 September 2019. Live in tersebut juga sekaligus menjadi salah satu rangkaian menyambut hari ulang tahun Gereja Karang Panas. Paling tidak terdapat 43 biarawan-biarawati yang ikut andil bagian di dalam kegiatan ini; dan tiga di antaranya ialah frater MSF yang diwakili oleh Fr. Nicolaus Wahyu Sumunar, MSF, Fr. Stefanus Krisna Bayu, MSF, dan Fr. Yohanes Febry Bagas, MSF.

Di dalam live in kali ini, terdapat tiga hal yang perlu kami wartakan dan sampaikan kepada para umat setempat, yakni;

  1. Jangan biarkan suara panggilan yang terdengar atau menggema dalam diri anak/orang muda. Seringkali kita mendengar ada anak-anak atau orang muda yang menyatakan keinginannya untuk menjadi imam, biarawan, atau biarawati. Kalau kita mau jujur dari ribuan bahkan jutaan orang belum tentu satu orang saja merasakan panggilan tersebut. Dengan kata lain suara panggilan itu sangat khas dan unik, maka janganlah dibiarkan begitu saja apalagi sampai dihalang-halangi atau dilarang. Anak-anak atau orang muda tersebut harus sungguh-sungguh mencari penegasan dan mohon penerangan Roh Kudus untuk memurnikan suara itu, melalui refleksi dan doa.
  2. Banyak imam, bruder, frater atau suster memilih panggilan hidup tersebut karena dahulu pernah ditawarkan oleh orang tua atau pembimbing rohaninya entah waktu kecil atau pada momen tertentu. Ternyata tawaran itu cukup memiliki arti penting di kemudian hari, tatkala mereka akan memutuskan cita-cita hiudpnya. Kalau demikian para orang tua atau para pembimbing rohani perlu menawarkan kepada anak-anak bahwa menjadi imam, biarawan atau biarawati menjadi salah satu panggilan atau cita-cita hidup mereka. Harapannya tentunya ialah tawaran tersebut suatu saat menggema dan ditanggapi secara positif oleh anak/kaum muda.
  3. Imam, biarawan/biarawati membutuhkan dukungan doa. Proses pendidikan atau formatio, hidup dan karya mereka seringkali penuh tantangan dan mengalami kesulitan dalam berbagai hal. Tidak jarang mereka harus berjuang sendiri. Sebenarnya umat dapat mendukung mereka lewat doa-doa entah sebagai komunitas kategorial atau teritorial lingkungan, keluarga atau secara pribadi. Doa-doa itu walau tidak tampak, namun pengaruhnya secara rohani sungguh nyata bagi pergulatan mereka. Doa penuh dari orang beriman yang didoakan dengan sungguh-sungguh akan sangat besar pengaruh dan kekuatannya.

Bersama dengan hal-hal tersebut, kegiatan live in ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan kongregasi MSF kepada umat. Secara umum, kedatangan kami sebagai MSF  disambut hangat oleh para umat di sana. Kegiatan live in ini ditutup dengan mengadakan outbond bersama dengan anak-anak misdinar dan OMK Gereja St. Athanasius Agung Karang Panas, Semarang.

 sum