Berita


05 May 2019, 11:25
Berlaga dalam Menemukan Panggilan Hidup

Menanggapi gerak misi MSF Propinsi Jawa 2018-2019 yakni “Menumbuhkembangkan benih-benih panggilan demi terwujudnya visi-misi MSF”, Skolastikat MSF mengadakan Open House dan Bi-Naz Cup. Acara dilaksanakan pada tanggal 27-28 April 2019 dan diikuti oleh para misdinar dari 4 Paroki MSF, yakni Paroki Keluarga Kudus Banteng, Paroki Santo Petrus dan Paulus Minomartani, Paroki Santo Petrus dan Paulus Temanggung, dan Paroki Keluarga Kudus Parakan.

Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan MSF, khususnya Biara Nazareth–Skolastikat MSF, kepada semakin banyak anak muda. Harapannya, dengan pengalaman dan dinamika dalam acara ini, banyak anak muda tergerak untuk menanggapi panggilan Tuhan secara khusus untuk menjadi biarawan dan calon imam MSF. Eh siapa tahu ada yang mau jadi romo, biarawan, atau biarawati.

Pada hari Sabtu, 27 April pukul 4 sore Biara Nazareth–Skolastikat MSF sudah mulai ramai. Para misdinar dari keempat paroki itu mulai berdatangan silih berganti. Mereka tampak sangat antusias dan tidak sabar untuk memulai acara ini. Acara pertama dibuka dengan sesi perkenalan dari para penghuni Biara Nazareth–Skolastikat MSF yakni para romo beserta dengan para frater yang masih menempuh studi di Fakultas Teologi Wedabhakti. Dalam sesi perkenalan ini, Frater William dan Frater Eko mengajak mereka untuk bermain dan menyanyikan beberapa lagu. Raut wajah mereka menunjukkan bahwa mereka sangat bergembira dan suasana semakin hangat.

Setelah sesi perkenalan acara dilanjutkan dengan sesi 1 yakni menjadi “Misdinar Zaman Now yang Militan. Para peserta yang hadir adalah mereka yang masih aktif menjadi misdinar, Frater Ferdy dan Bruder Gian mengajak mereka untuk menjadi seorang misdinar yang militan menimba semangat dan teladan dari pelindung misdinar yakni Santo Tarsisius. Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini kiranya anak-anak muda zaman sekarang dapat menyesuaikan diri dengan zaman informasi yang serba cepat. Kiranya kami dapat menggunakan media internet secara positif untuk memberikan informasi dan saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Organisasi misdinar dapat menjadi motivasi kami untuk selalu tampil beda didalam masyarakat khususnya mempertahankan iman sebagai orang Katolik. Berani memikul salib setiap hari di kehidupan untuk menjadi teladan masyarakat dan umat setempat. Terakhir, sebagai misdinar, jangan pernah lelah bekerja di ladangnya Tuhan. Dalam sesi ini peserta dibagi dalam kelompok agar saling mengenal satu sama lain dan diajak untuk berbagi pengalaman ketika menjadi misdinar di paroki mereka masing-masing. Suasana makin cair dan tampaknya mereka tidak ingin suasana itu cepat usai. Maka, dalam makan malam mereka tetap berbaur dalam kelompok untuk makin memperdalam perkenalan di antara mereka. Setelah makan malam, acara masuk ke sesi 2 yakni perkenalan tentang misi MSF. Dalam memperkenalkan misi MSF, Frater Brian dan Frater Krisna memutarkan video tentang suka dan duka yang dialami romo Adi Nugroho. MSF, yang bertugas di Jerman.

Selesai memutarkan video acara dilanjutkan dengan mengunjungi stand-stand MSF. Stand-stand ini dibagi menjadi 3 menurut kharisma atau tiga kerasulan MSF yakni Panggilan, Keluarga, dan Misi. Keseruan mereka di hari pertama berpuncak dalam malam pentas seni. Setiap paroki menampilkan kesenian mereka masing-masing. Ada yang unjuk kebolehan dengan menampilkan musik band dan ada yang menampilkan teater. Para frater juga tak mau kalah dengan mereka. Kami menampilkan musik band sebagai pembuka dan ditutup dengan teater singkat. Sebelum beristirahat kami mengajak mereka untuk mengendapkan apa yang telah dialami, didapat dan dirasakan dengan renungan malam dipadukan dengan musik taize sehingga suasana semakin tenang.

Minggu pagi yang cerah mereka mulai bangun, setelah bermalam di dalam tenda. Mereka siap menyambut hari baru dengan penuh semangat karena inilah yang mereka tunggu yakni pertandingan futsal untuk yang laki-laki dan pertandingan basket untuk perempuan. Setiap paroki berlomba untuk menjadi terbaik. Setiap paroki juga berusaha memberikan semangat kepada mereka yang sedang bertanding. Teriakan dari luar lapangan amat keras dan saling bersaut-sautan untuk memberikan spirit kepada mereka yang sedang bertanding. Setiap pertandingan baik basket maupun futsal sama-sama seru dan menegangkan. Meskipun menegangkan kami mengajak mereka agar tetap sportif dan dapat mengatur perasaan untuk tidak emosi.

Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh romo minister Rm. Paulus Subani, MSF sebagai koselebran utama di dampingi romo rektor dan wakil rektor yakni Rm. Y.B Prasetyantha, MSF dan Rm. Dwi Yulianto, MSF menjadi acara penutup seluruh rangkaian Open House dan Bi-Naz Cup. Dalam perayaan Ekaristi ini beberapa peserta membagikan pengalaman yang didapat selama acara. Beberapa juga mengungkapkan ketertarikannya untuk menjadi biarawan dan biarawati. Kami berdoa semoga panggilan mereka tetap terjaga dan nantinya mereka dapat menjawab “ya” untuk menjalani panggilan. Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah. Paroki Parakan berhasil menyabet juara umum, diikuti Banteng, Temanggung dan Minomartani. Acara ditutup dengan santap siang bersama dan setelah itu mereka kembali ke paroki mereka masing-masing. Sayonara!!! To be Continued!!!