Berita


25 Feb 2019, 20:52
Berias untuk Pesta

Kita semua, seluruh Rakyat Indonesia sedang berada dalam situasi pesta. Namun, ini bukan pesta tentang kemerdekaan, peringatan reformasi, atau pesta tahunan lainnya. Pesta yang sedang dan akan berlangsung ini adalah pesta istimewa. Apa keisimewaan pesta ini? Ya, pesta demokrasi Indonesia, yang hanya diadakan lima tahun sekali, dan pesta itu tidak hanya habis dalam semalam saja. Pesta tersebut akan menentukan arah ke depan bangsa kita. Hendak dibawa ke mana bangsa ini, akan ditentukan oleh pesta ini. Untuk itu, kita semua harus “berias” dan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, agar kita layak menghadiri pesta yang akan berlangsung tersebut.

Setiap daerah, organisasi kategorial, paguyuban, dan perkumpulan-perkumpulan lain memiliki cara tersendiri untuk hal itu. Salah satu yang dilakukan adalah membekali diri untuk peka terhadap isu-isu yang beredar di masyarakat, agar pesta demokrasi kita, pemilu 2019, dapat berjalan dengan baik dan membuahkan yang baik pula bagi bangsa kita ke depannya. Untuk berpartisipasi dalam hal itu, paguyuban ibu-ibu Wilayah Santo Fransiskus Xaverius Manukan, Paroki Keluarga Kudus, Banteng, mengadakan seminar yang bertema ”Pelatihan Merawat Kebhinekaan dan Memerangi Hoax Menuju Indonesia Damai”. Seminar yang diadakan dengan kerja sama Kementrian Komunikasi dan Informatika RI ini, diadakan pada tanggal 16 Februari 2019.

Seminar ini dihadiri oleh terutama umat di Paroki Banteng sendiri, mahasiswa/mahasiswi Fisipol UGM, wartawan, dan beberapa frater dari konfik MSF, CMF, juga Anging Mamiri. Ada tiga sesi dalam seminar ini, dengan tiga narasumber yang berbeda, yakni: Bu Niken dari Kominfo, Rm. Bagus Laksana SJ, dan Rm. Santo Pr.

Hal yang menarik dan cukup menjadi perhatian dalam seminar ini adalah jumlah akumulatif pemilih muda (17-29 tahun). Ada 60% pemilih muda dari keseluruhan penduduk Indonesia. Seperti kita bersama ketahui, kaum muda adalah kelompok yang mudah merespon segala yang ia lihat, dengar, dan ketahui dengan begitu cepat, sharing tanpa saring. Hal ini kiranya dapat dihadapi dengan mengadakan pengarahan dan pelatihan kepada para muda-mudi, agar dapat menanggapi desas-desus dunia kampanye dengan bijaksana.

Saat ini terdapat 143,26 juta orang yang menggunakan internet dari keseluruhan 262 juta jiwa penduduk Indonesia. Mereka terjun dalam jaringan internet dengan intensitas penggunaan rata-rata 8-11 jam per hari. Seminar-seminar mengenai cara bersikap dalam menghadapi hoax sungguh baik telah dilakukan di banyak tempat. Namun, akan semakin baik dan efektif bila penyuluhan juga dilakukan lewat dunia internet, seperti media sosial yang saat ini digunakan oleh hampir setengah dari penduduk Indonesia.

Banyak cara yang dapat dilakukan dalam penyuluhan melalui media internet, seperti Youtube dan Instagram, yang saat ini sangat banyak digemari. Melalui video singkat dan juga gambar ber-quote, kita sudah bisa ikut berpartisipasi untuk menciptakan suasana damai. Intinya adalah agar kita dapat memanfaatkan semua media yang ada dengan baik untuk menyebarkan ajaran kasih dari Yesus sendiri. Itulah kontribusi kita sebagai umat Katolik dalam pemilu mendatang, seperti juga sudah Yesus ajarkan dalam Mat 22:37. Semoga dengan semua yang telah dan akan kita lakukan ke depannya dalam merawat kebhinekaan dan memerangi hoax, sungguh bisa menjaga kelestarian persaudaraan di negara kita ini. Dan akhirnya, kita layak mengikuti pesta yang akan diselenggarakan April mendatang.