Sejarah


Sejarah Skolastikat MSF – Biara Nazareth di Jalan Kaliurang Km. 7,5 Yogyakarta tidak bisa dipisahkan dari karya misi MSF di Indonesia. Pada tanggal 27 Februari 1926, tiga misionaris Keluarga Kudus tiba di Laham, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Enam tahun kemudian, tepatnya tanggal 26 Februari 1932, tiga imam MSF tiba di Semarang, Jawa Tengah.

Karya awal MSF di Indonesia, khususnya di Jawa, ini senyatanya bersemi dan berkembang. Empat tahun kemudian, yakni pada tahun 1936, seorang pemuda dari Temon, Wates, Yogyakarta, yakni Dionisius Adisoedjono, masuk menjadi calon MSF. Inilah benih panggilan MSF pertama yang tumbuh dari putera pribumi.

Adalah Skolastikat MSF di Oudenbosch, Belanda, yang menjadi tempat awal pendidikan para skolastik bagi putera Jawa sekaligus putera Indonesia yang ingin menjadi misionaris Keluarga Kudus. Setelah setahun menjalani masa novisiat di Nieuwkerk, pada tahun 1937, Adisoedjono menjalani tahun filsafat dan teologi di Oudenbosch. Pada tahun 1942, ia menyelesaikan studinya dan ditahbiskan menjadi imam. Selanjutnya Theodorus Widagdo menyusul. Setelah menyelesaikan pendidikan di seminari menengah di Wijkaan Zee, Widagdo menjalani masa skolastiknya di Oudenbosch dari tahun 1953 sampai 1958. Angkatan ketiga skolastik Indonesia di Oudenbosch adalah F.X. Pradjasuta, Martinus Dotohendro dan Hendrawarsita. Mereka masuk Oudenbosch pada tahun 1954 dan menerima tahbisan di Roma tahun 1958. Kemudian pada tahun 1955 menyusul angkatan C. Adiwidjaja dan Ign. Handayaseputra serta Hendrikus Djajapoetranta. Pada tahun 1958 studi para frater MSF Indonesia tersebut dilanjutkan di Via di Villa Troili Roma, Italia.

Benih panggilan MSF di Indonesia menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Maka mulai ada pemikiran serius untk mendirikan rumah pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1956 Novisiat MSF untuk pertama kali dibuka di Pastoran Pati. Selanjutnya, sehubungan dengan pembukaan novisiat ini, mulai dipikirkan perlunya pendirian skolastikat sebagai tempat pendidikan filsafat dan teologi bagi frater-frater MSF. Pendirian skolastikat di Indonesia ini juga didorong oleh kenyataan adanya kesulitan untuk mengirim calon imam ke luar negeri sebagai akibat hubungan politik Indonesia dan Belanda yang pada waktu itu memanas.

Pimpinan Regional MSF Jawa pada waktu itu Rm. Josef van Beek bersama dua asistennya Rm. Adisoedjono dan Rm. De Koning, serta Rm. Ant. Van der Valk, memutuskan untuk mendirikan skolastikat di Yogyakarta, tepatnya di dua buah rumah di Jl. Supadi 15-17. Lokasi ini dipilih dengan 2 alasan: pertama, dekat dengan tempat perkuliahan filsafat dan teologi, yakni Seminari Tinggi Jalan Code Yogyakarta; dan kedua, kedua rumah yang bersebelahan tersebut dapat dibeli dan dapat menampung jumlah skolastik (dan novis) pada waktu itu. Akhirnya, pada tanggal 8 September 1957, secara resmi dibuka skolastikat di Regio Jawa dengan nama Skolastikat MSF Santo Agustinus – Jl. Supadi 17, Yogyakarta.

Rektor pertama Skolastikat MSF di Jalan Supadi adalah Rm. Ant. Van der Valk (1957 - 1959). Selanjutnya adalah Rm. Nicolaas Lengers (ketika Rm. Valk cuti, Januari – November 1959), Rm. Antonius Verlaan (1960 – 1963), Rm. Josef van Beek (1963 – 1966) dan Rm. F.X. Pradjasuta (1966 – 1968).

Pada masa periode ini, ada sejumlah kesulitan pokok yang dihadapi. Pertama, belum tersediaanya tenaga formator, sehingga pada masa itu rektor sekaligus merangkap ekonom dan magister. Baru pada tahun 1960, ada tenaga tambahan untuk menjadi magister. Kedua, ruangan untuk para frater sangat sempit, karena satu kamar terpaksa disekat menjadi tiga bilik. Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan sangat terbatas. Untuk 17 frater hanya tersedia 1 mesin ketik. Demikian juga fasilitas olahraga, satu lapangan digunakan untuk bermain bola voli dan bulutangkis.

Berhubung kondisi Skolastikat Jalan Supadi tidak memadai lagi, pada tahun 1961 dicari tanah untuk gedung skolastikat berjangka panjang. Akhirnya, didapatlah tanah yang luas di tepi Jalan Kaliurang Km. 7,5, di Dukuh Banteng, Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman. Lahan tanah ini berada tidak jauh dari Kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus.

Pada pesta Pelindung Kongregasi, Santa Perawan Maria La Salette, 19 September 1963, Superior Regionalis, Rm. A. Verlaan meletakkan batu pertama pembangunan gedung. Setelah kurang lebih lima tahun, pembangunan skolastikat yang baru ini selesai. Pada tanggal 15 Desember 1967 keluarga besar Skolastikat di Jalan Supadi pindah ke Banteng dengan dipimpin oleh Superior Regionalis. Bangunan besar ini diberi nama Wisma (selanjutnya Biara) Nazareth. Nazareth adalah tempat hidup Keluarga Kudus. Pemberian nama ini kiranya sejalan dengan maksud Pater Pendiri, Jean Berthier, yang telah menamai Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus dan memberikan Keluarga Kudus sebagai teladan. Teladan itulah yang mendasari, mewarnai dan memberi inspirasi bagi penghayatan spiritualitas di tempat pendidikan ini.

 Biara_old