Renungan


Ini Bicara Tentang Jarak
Hilarius Marvy - 25 Apr 2020, 16:58

 

Jarak yang membuat kita jadi jauh.

Jarak yang membuat hal yang biasa jadi tidak biasa.

Dan jarak yang selalu membuat kita menjadi halu.

Rindu yang kita rasakan tak kunjung redup.

Hanya karena ada jarak disitu.

Pertemanan, hubungan yang menyepi.

Kadang jarak menjadi satu hal yang sangat dibenci.

Namun !!!

Pelantun musik “jauh di mata namun dekat di hati” (HIVI) tidak memiliki jarak di antara hati-Katanya

Tidak bisa dipungkiri bahwa jarak sebenarnya sudah ada di dalam hati kita.

Adakalanya kita menutup jarak di hati dengan berbagai alasan yang suci.

Siapa yang kuat dia yang akan bertahan!!! karena memang mencintai jarak.

Tetapi !!!

Adakalanya semua bisa terlihat lebih jelas dengan adanya jarak.

Adakalanya jarak membuat kita lebih dewasa.

Menghargai setiap proses yang ada.

Adakalanya jarak membuat kita beristirahat.

Dari sesuatu yang melelahkan.

Mungkin ini saatnya kita harus berdamai dengan jarak.

Menikmati saat kita harus berjauhan sekarang.

Menikmati kesepian ini karena ini hanya sementara.

Dan kita berdoa agar semua cepat pulih.

 

Jarak tidak hanya kita rasakan dalam kehidupan sekarang ini, tetapi juga dialami oleh para Rasul setelah mengalami peristiwa yang tak mengenakan yaitu kematian Yesus di kayu salib (Kis 4 :1-12). Peristiwa tersebut membuat mereka menjadi terpukul, dan dampaknya mereka merasakan adanya jarak dengan Tuhan Yesus. Bahkan tidak hanya sebatas jarak yang mereka rasakan, tetapi juga lockdown karena mereka masuk dalam rumah tidak berpergian kemana-mana. Lalu tiba-tiba Yesus hadir dan menampakan diri kepada mereka. Peristiwa itulah dapat membangkitkan iman mereka. Bisa dikatakan bahwa sebenarnya dalam rasa adanya jarak dengan Tuhan, para Rasul memiliki hubungan yang intim dalam hal rohani dengan Tuhan Yesus.

Bagaimana dengan kita saat ini? Memang kerap kali kita mengatakan bahwa kedekatan rohani sudah kita bangun, bahkan kadang diatas namakan kebersamaan untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Berdoa, dan devosi-devosi segala hal yang sifatnya rohani sudah kita lakukan agar jarak tidak memisahkan kita dengan Tuhan Yesus. Tampaknya semua itu akan terasa hampa jika tidak diwujudkan dalam suatu tindakan yang nyata. Bukankah iman kita menjadi tanggapan atas kebaikan Allah melalui tindakan real ? Lalu sudahkah kita turun kepada mereka yang sebenarnya membutuhkan pertolongan kita? Apakah kita hanya diam dengan duduk manis di belakang meja ?  Terkadang untuk mengulurkan bantuan kita masih bertanya apakah sasaran yang kita tuju sudah tepat atau kita masih berkata sudah banyak orang di luar sana yang membantu ? sangat ironi jika kita masih berpikir demikian. “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yakobus 2:14).

Memang baik membaca berita menganai mereka yang berjuang dengan sungguh-sungguh turun dalam penderitaan orang lain. Tetaapi apakah hanya sekedar membaca ?  Dasarnya jika iman tidak diwujudkan dalam tindakan sama dengan mati dan secara otomatis kita sudah membuat jarak dengan Tuhan Yesus. Tetapi tetap diingat, bahwa kita memiliki cinta atau Philos untuk mengejar kehidupan yang penuh nilai-nilai luhur. Terus menggapai apa makna cinta yang kita berikan kepada sesama kita manusia. Plato  seorang filsuf dan matematikawan Yunani pernah berkata “Karena cinta yang sejati itu terus mencari dan menggali tidak akan pernah berhenti, sampai menemukan cinta sejati.” Semoga kita terus memberikan cinta dan kebijaksanaan di dalam kehidupan kita saat ini. Semua pertanyaan ini dimaksudkan untuk melihat diri kita masing-masing. Jika kita merasa dongkol atau setelah membaca ini, percayalah bahwa kita memang belum dapat menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh Tuhan Yesus.

***

“Orang Kristen mengajarkan bahwa Tuhan mencintai mereka yang mencintai-Nya tetapi hal tersebut asing bagi kepercayaan Pagan. Karena gagasan orang Kristen yang mengatakan bahwa Tuhan mencintai manusia, dengan begitu manusia harus mencintai sesamanya untuk dapat menyenangkan hati Tuhan. Akan tetapi hal itu sangat bertentangan dengan kaum pagan. Tuhan menunjukkan cinta melalui pengorbanan, manusia juga harus menunjukkan cinta melalui pengorbanan dengan membantu satu sama yang membutuhkan. Tanggung jawab seperti itu harus diperluas melampaui ikatan keluarga dan suku. Hal ini menggambarkan bahwa sikap orang Kristen pada saat itu tidak menolak wabah tetapi menerima wabah. Tuhan mengajak orang Kristen melakukan sesuatu untuk-Nya. Dengan menerima wabah itu umat Kristen dapat belajar bahwa kita manusia tidak boleh memikirkan diri sendiri. Menolong tidak terbatas pada orang Kristen saja, melainkan semua orang yang membutuhkan pertolongan. Rodney Stark, The Rise of Christianity, San Francisco, Harper Collins, 1997. Bab 4.

Share :