Renungan


Corona
Hilarius Marvy - 18 Mar 2020, 02:43

Covid-19
Hari ini ada yang berbeda.
Semut kecil di tengah jalan begitu senang.
Suasana jalan begitu lengang.
Alam menangis dengan situasi cuaca yang tak jelas.
Mahkluk kecil itu menempel di mana- mana.

Siaga satu bagi mereka pemimpin bangsa ini.
Semua penutup wajah hilang ditelan bumi.
Entah ke mana ? mereka menutup mata.
Harga dimainkan sesuka hati.
Merauk harta anak bangsa yang sudah pincang ini.
Yang kaya melambung jauh dengan kenikmatan yang sementara itu.
Yang miskin telah menjadi abu.
Pak mentri sakit apa boleh buat keadaan mulai diisolasi.
Rakyat menunggu pikiran pimpinan yang terkadang tak sejalan dengan logika.
Karena virus itu telah mengrogoti otaknya.

Untuk sementara berjauhan bahkan jabatangan pun tak boleh.
Seakan kita mencurigai satu sama lain.
Para teolog berpikir keras bagaimana sabda bisa tersalurkan.

Bermain dengan WA bagi mereka yang memilikinya
Lagi-lagi teknologi yang berbicara.
Seakan tak terima dengan situasi berbagai cara dijadikan alasan agar tak memakai teknologi.
Suara bisa di kirim, pesan dengan cepat menyebar.
Berpikir keras agar sakramen bisa dikirim seperti itu.
Lagi- lagi kemajuan teknologi yang berbicara.

Minyak di wajan pagi ini belum juga panas.
Menandakan tak ada yang mampir.
Orang zaman ini diisolasi akibat virus kecil yang membunuh.
Mempertanyakan bagaimana dapat sesuap nasi.
Kehidupan kami sejenak berhenti.
Menandakan tak ada lauk pauk di atas meja.

Kehidupan kecil yang tersembunyi.

Namum tidak sejalan dengan kenyataan.

Lagi-lagi realita yang berbicara.
Anak kami meronta ingin sesuatu yang tidak pernah ia dapat yaitu cinta.
Takut? Ooh tidak!!! Karena kami mau keluar mencoba hal baru.
Mungkin bapak tua takut!!! Jelas karena tak percaya dengan kami yang kecil ini.
Hanya perdebatan di meja panas yang tak membuahkan hasil.

Kami yang tak bisa berbicara ini yang terkena imbasnya.

Setiap orang punya pendapat keras.

Yang waras hanya bisa mengalah.


Pengajaran tak seperti biasa.
Orangtua yang tak sejalan dengan zaman ini mengeluh.
Ketakutan meliputi orang-orang pintar yang gila akan ilmu.
Pak guru gelisah kehilangan murid yang tak ada di kelas.
Kerena tidak ingin membuat mereka merasa senang dengan ketidak hadirannya.
Indra berkata herodes mati!! memerintahkan pasukan membunuh keluarga mereka yang senang karena ia mati.
Tapi ia tak ingin melihat orang-orang bergembira karena ke matiannya.
Ketidak percayaan meliputi bangsa.
Memang mental belum siap tapi keadaan berbicara lain.
Negara maju secara otomatis sadar.
Para filsuf gelisah karena takut tidak lagi bisa mempertanyakan keadaan.
Orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri.
Mempertahankan argumen di meja panas.
Dirasa belum siap tapi apa boleh buat kedaan yang berbicara.
Mempertahankan pendapat tua bisa saja, asal siap menderita.
Pemilik barang berteknologi canggih tak akan kesulitan menyesuaikan diri.
Kaum kecil menunggu di bawah pengharapan.

Share :