Renungan


Aku adalah sebuah batu
Hilarius Marvy - 15 Mar 2020, 19:43

Aku adalah sebuah batu. Batu besar yang terletak di puncak sebuah gunung. Hujan badai, panas terik telah kualami. Bentukku persegi menyerupai sebuah meja dengan tinggi sepinggang orang dewasa. Permukaanku cukup lebar, orang bisa berbaring di atasku. Kala matahari terasa menyengat orang bisa berteduh di sampingku. Hari itu, pagi-pagi benar, saat mentari masih bersembunyi seorang lelaki datang ke mari. Wajahnya kucal, rambutnya yang jarang terlihat berantakan. Kaos putih yang ia kenakan basah karena keringat. Tampak jelas ia begitu kelelahan. Sambil terengah ia mendekatiku lalu menyandarkan tangan padaku sembari mengatur nafas, keringatnya menetes membasahi tubuhku. Sejenak kemudian ia menekuk kakinya dan membuat kuda-kuda. Tanganya ia pindahkan ke dasar tubuhku. Dengan sekuat tenaga ia berusaha mengangkatku. Tentu saja aku bergeming. Aku batu, hitam pekat, dan keras, kokoh kuat di puncak gunung Dalam hati aku tertawa, betapa bodohnya orang itu. Wajahnya memerah, tetapi tampaknya ia tak mau menyerah. Gigih betul ia. “Ah kawan, sudahlah, jangan konyol”, kataku padanya.

Sepertinya dia bisa mendengarku, setelah berkata demikian ia tak lagi berusaha mengangkatku. Oohh, tunggu. Ia merubah posisinya, kali ini ia menarik kakinya mundur dan meletakkan tangan di sampingku. Akankah ia.... ah, benar. Ia berusaha mendorongku. Bodohnya. Tentu saja usahanya kembali sia-sia. Setelah itu ia berdiri tegak memandangku. “Mau apa lagi kau”, kataku sambil memandangnya penuh penasaran.

Penuh keyakinan, ia ayunkan kaki ke arahku. Tendangannya justru membuatnya terpelanting jatuh. Segera ia bangkit, lalu memukulku secara brutal. Tentu saja aku tak merasakan kesakitan sedikitpun. Yang kurasa hanya cairan hangat dan lengket menempel di tubuhku. Apa yang ia lakukan justru membuat dirinya sendiri terluka.

Orang itu kembali terjatuh, lalu duduk memandangku. Susah payah ia kembali mendekatiku, kemudian bersandar padaku. Kudengar ia menguman, menyebut nama seseorang. Aku rasa itu nama orang yang dicintainya. Tak jelas apa yang ia katakan.

Matahari mulai naik ke peraduannya. Langit mulai memerah, burung-burung menari-nari di angkasa. Orang itu naik ke tubuhku lalu berbaring memandang angkasa. Kudengar ia terisak, air matanya menetes. Kembali ia sebut nama itu. Setelah itu ia bangkit berdiri menatap matahari. Sambil tersenyum ia rentangkan tangan dan menghirup nafas panjang. Setelah itu ia turun dan berdiri di tempat semula. Aku pikir ia akan kembali bertindak bodoh. Ia mengusap tangannya yang berdarah, lalu merobek lengan bajunya untuk membalut luka. Matanya ia arahkan ke tanah yang ia pijak, kakinya ia jejakkan tiga kali. Senyumnya semakin lebar, matanya menampak optimisme yang besar. Perlahan ia berjalan mundur selemparan batu jaraknya. Wajahnya tak lagi kucal, aku bisa merasakan semangat memabara dari dalam tubuhnya. Ia mengusap pipinya, hapus air mata yang masih tersisa, lalu berlari sekuat tenaga ke arahku. Tepat di tempat ia berdiri tadi ia hentakan kaki keras-keras dan melompat tinggi. Ku lihat ia membumbung tinggi melampauiku dan mendarat dengan mulus. Segera ia berdiri tegak membelakangiku, sambil melirikku. Wajahnya bersinar, tersenyum panacarkan sukacita. Perlahan ia berjalan turun dengan tangan terangkat tanda kemenangan.

 

Share :