Renungan


Tourette Syndrome
Hilarius Marvy - 04 Mar 2020, 00:24

 

Setiap orang di dunia ini memiliki keunikannya sendiri, entah itu bakat, talenta atau kelebihan. Tapi kelebihan itu juga tidak bisa dilepaskan dari yang namanya kekurangan. Sejak kecil aku sudah menjalankan kehidupan yang normal bersama keluarga dan teman-teman di sekitarku. Mereka semua begitu memperhatikanku dan menyayangiku. Orangtuaku mendidiku secara tegas dan disiplin yang membentuk karakterku. Untuk masalah belajar mereka tidak lagi pusing-pusing untuk mengejar-ngejarku untuk belajar, karena aku sudah bisa belajar secara mandiri dan syukurlah sejak menempuh pendidikan di sekolah dasar hingga SMA aku selalu mendapat hasil yang baik di sekolah. Di balik semua hal yang sudah aku dapatkan itu hanya ada satu hal membuat aku bingung, kadang-kadang aku melakukan suatu gerakan yang tidak bisa aku kontrol. Ya seperti gerakan mulut, tangan dan kepala, seakan-akan ada yang menggerakan diri aku secara otomatis. Seperti halnya detak jantung yang tidak kita sadari tapi bisa kita rasakan. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi, yang aku tahu aku harus melakukannya. Hal itu mulai terjadi pada diriku saat aku kelas 3 SD.

Orangtuaku mulai melihat gerak-gerikku dan meraka merasa tidak nyaman melihatnya. Mereka beranggapan bahwa hal itu disengaja tapi sebenarnya aku pun tidak bisa mengendalikannya dan otomatis saja bergerak didalam diriku. Bukan hanya orangtuaku yang mengingatkanku tapi teman-teman, orang di sekitar tempat tinggalku. Kemudian muncul pertanyaan klasik yang sudah biasa aku dengar “ tidak bisa ditahan ya Pan gerakannya???” Awalnya aku kesulitan untuk menerima diriku sendiri, aku juga tahu perasaan orangtuaku yang mungkin meresa risih melihatku. Tak jarang mereka memarahiku karena kondisiku ini, itu yang membuatku merasa tidak ada dukungan dari orangtuaku. Sejak kecil aku juga merasa tidak membangun komunikasi yang baik dengan orangtuaku dan menutup diriku kepada mereka. Dari situ aku belajar bagaimana mau keluar dari diriku berdamai dengan diri dan orangtuaku. Aku pernah berpikir apa orangtuaku malu jika melihat kondisiku yang seperti ini? Pertanyaan itu selalu bergema dalam hatiku, itu sebabnya mengapa aku sempat merasa sangat stres dan depresi. Tapi semua itu ku sembunyikan dalam hati, aku tak ingin mereka kecewa atau marah karena kondisiku ini.

            Akhirnya mereka membawaku kedokter, psikiater dan tempat pengobatan tradisional. Akan tetapi dokter tidak bisa menyimpulkan penyakit apa yang kuidap karena di Indonesia penyakit seperti ini termaksud penyakit yang langka dan jarang ada orang yang menyidapnya. Otomatis tidak ada obat atau tindakan medis yang diberikan kepadaku. Terkadang hal itu hilang dan kadang-kadang kambuh saat aku merasa stres atau saat mau ujian. Bahkan saat tidur pun mulut, kaki dan kepala ku pun tetap bergerak seakan-akan itu sudah menyatu dalam diriku. Tapi dengan kondisi aku yang seperti ini tidak membuat aku dijahui teman-teman. Saat aku lulus dari SMP aku memutuskan untuk merantau ke Kota Malang, melanjutkan pendidikan di sana. Ternyata kondisi di SMA berbeda dengan di SD dan di SMP di mana teman-temanku lebih bisa memahami penyakitku ini dan tidak merasa terganggu seakan sudah menjadi hal biasa. Di SMA teman-temanku lebih memperhatikan penyakitku ini, tak jarang meraka mempertanyakan penyakitku ini dan aku coba jelaskan sebisaku. Tetapi ada juga beberapa teman yang merasa tidak nyaman dengan kondisiku yang seperti ini sehigga mereka lebih menjaga jarak denganku. Dari situlah pertama kali muncul perasaan minder dan perasaan kecil dalam diriku.

Akhir SMA aku memutuskan untuk kuliah di Jerman dengan pikiran positif aku ingin bisa hidup mandiri dan sembuh dari penyakitku ini. Orangtuaku sudah mengingatkan bagaimana nanti kalo penyakitnya kambuh lagi dan sakit, ya karena kadang-kadang gerakan itu sampai membuat luka di mulutku. Aku seperti melukai diri sendiri dan itu membuat aku tidak bisa belajar serta melakukan hal-hal yang lain. Tapi dalam hati, aku percaya bisa mengalahkan penyakit ini dan berkulaih baik di Jerman. Tetapi ternyata keadaan berubah, kuliah di Jerman membuat aku tambah Stres dan memperparah penyakit aku ini. Aku pun memberanikan diri pergi ke dokter untuk menemukan jawaban penyakit apa yang ku derita. Di Jerman, akhirnya aku tahu ada yang namanya tourette sindrom. Itu adalah sindrom di mana ada kesalahan di saraf otak, aku harus melakukan gerakan-gerakan, suara-suara yang tidak perlu dan aku tidak dapat mengontrolnya. Dokter hanya memberikan aku obat untuk meredam gerakan yang seringku lakukan tapi efeknya tidak terlalu berpengaruh. Untuk bisa sembuh dokter menganjurkan untuk oprasi otak namanya DBS (Deep Brain Stimulation). Ketika aku tahu, aku sempat depresi dan malu untuk berinteraksi dengan orang-orang hingga akhirnya aku menutup diri. Kata-kata mudah untuk dibuat karena seperti angin, namun sahabat yang setia sulit untuk ditemukan.

 

Aku selalu ke gereja setiap hari Minggu memohon ke Tuhan untuk segera lepas dari penyakit ini. Ya, ternyata penyakit ini tidak kunjung sembuh dan makin memperparah kondisiku. Aku sempat membuat janji-janji kalo Tuhan sembuhin penyakit ini “aku akan aktif ke persekutuan atau aktif dalam pelayanan”. Sampai detik ini pun Tuhan belum menjawab doa ku, aku merasa sangat tertekan sampai ada keinginan dalam diriku untuk mengakhiri hidup ku. Bahkan aku sempat mogok kuliah karena malu dilihat orang, ditertawakan dan takut menggangu kelas. Mulai saat itu aku semakin berpasrah sama Tuhan dan mulai ikut persekutuan doa di Julich. Di situ banyak teman-teman yang menerima kekuranganku dan membantu aku tumbuh dalam iman. Aku pun mulai berani keluar rumah ikut persekutuan di Aachen. Ternyata hal yang aku takuti selama ini tidak pernah terjadi, aku takut dipukul orang-orang asing di jalan karena aku berteriak dan ngomong kasar. Kadang-kadang orang menatapku penuh dengan rasa marah karena perbuatanku tapi aku hanya bisa tersenyun dan mengeluarkan kartu yang ku bawa setiap hari yang menandakan aku sedang sakit. Dari situ mereka dapat memahami ku dan mengerti kondisi yang kualami.

Aku mengalami kasih Allah dalam setiap kehidupanku melalui orang-orang yang ada sekitarku seperti misalnya saat aku beli kebab, aku dikasih bonus saos, aku pernah didiskon saat naik taxi karena cerita tentang keadaan ku ini dan masih banyak lagi kebaikan Allah melalui orang-orang di sekitar ku. Yang terpenting dalam kehidupan ini aku bisa menemukan wajah Allah dalam setiap peristiwa yang aku jalani baik itu peristiwa baik atau buruk. Semua memiliki kekhasannya masing-masing dan bagaimana aku bisa memaknainya bahwa Tuhan tetap baik pada ku.

Dan yang lebih penting lagi aku sadar betapa baiknya Tuhan Yesus yang sudah mau turun ke dunia untuk menebus segala dosa bukan hanya dosa ku tapi kita manusia. Sekarang aku sadar betapa pentingnya ke Gereja, berdoa, mengasihi, mencintai dan bersyukur. Semua itu aku sadari lewat teman ku Tourette Sindrom ini. Tuhan bukanya tidak mendengarkan doaku untuk menyembuhkan penyakitku ini, tapi Tuhan punya tujuan untuk hidup ku untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ya masa-masa gelap dalam diri ku coba kutinggalkan. Menjadi Pandya yang baru meninggalkan manusia lama dan menjadi baru. “ Yesus menjawab kata-Nya : “Aku berkata kepadamu sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak melihat kerajaan Allah” Yohanes 3 : 3. Sekarang aku sadar betapa cintanya kelaurgaku yang selalu mendukung keadaanku dan percaya hal indah akan terjadi di masa depan. I love you my family. Oh ia sebelumnya aku belum mengenalkan diri, nama ku Albertus Indratma Pandya Raharjo aku anak pertama dari tiga bersaudara. Kini aku masih melanjudkan studi ku di Jerman, doakan semuanya berjalan seturut kehendak-Nya.

Untuk kalian yang mungkin mempunyai kekurangan dalam hidupmu tetap lah bersykur dan ingatlah bahwa kamu orang yang masih beruntung di dunia. Bagi kalian yang punya pergumulan sama dengan diriku tentang masalah penyakit atau disabilitas atau kalian punya teman yang juga punya teman yang memiliki tourette sindrom ataupun mereka yang depresi, aku sama sekali tidak keberatan untuk bisa mengobrol dengan kalian bercerita dengan kalian di media sosial. Kita bisa sharing pergumulan kita masing – masing dan juga saling mendoakan. Line: albertus_pandya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share :