Renungan


Malaikat Tanpa Sayap
Hilarius Marvy - 03 Mar 2020, 04:12

 

Malam terasa begitu dingin dan gelap. Benakku penuh tanya. Apa arti semua ini? Aku terbaring sendiri menatap salib tergantung di dinding. “Hey, Kau apa maumu?” kataku pada Pria yang tergantung di sana. Semua sudah berakhir. Semua yang kuncintai, semua yang kumiliki telah pergi. Tak ada lagi yang tersisa. “Seharusnya, Kau habisi aku sekalian,” kataku lagi.

Pria itu diam membisu. Yang terdengar hanya deru hujan yang kian deras. Kupalingkan wajahku ke samping. Aku menggerakan tangan perlahan, meraba pembaringanku. Berharap menemukan kehangatan di sana. Sayangnya tempat itu kini telah kosong. Ya, tak ada siapapun di sana. Ranjang yang sama kini terasa lebih longgar. Seharusnya ranjang ini menjadi sempit. Seharusnya hari –hari ini adalah hari bahagia bersama kami. Aku, istriku dan anak pertama kami. “Hey, Kau, aku menunggu hari ini begitu lama. Setiap malam aku berdoa padamu, agar semua berjalan lancar. Tetapi lihat yang terjadi sekarang, Kau merusak semuanya. Kalau memang itu mau-Mu, setidaknya Kau membiarkan kami tetap bersama.”  

***

“Bang hari ini liburkan?” tanya istriku sembari membereskan meja makan. Wajahnya terlihat lebih cerah. Sudah 3 bulan kami menjalani kehidupan baru, semakin hari kurasa dia semakin cantik. Jika kami tidak pernah dipertemukan entah akan jadi apa aku hari ini. Dia seperti malaikat tak bersayap yang menyelamatkan hidupku. Dialah yang menuntun aku keluar dari lembah dosa. Ya, dia benar-benar datang di saat yang tepat. Ketika aku mulai putus asa dengan hidupku, dan terjerat narkoba, dia datang memberiku harapan dan terus memotivasiku untuk sembuh.

Setelah satu tahun kami bersama, aku benar-benar lepas dari kecanduan sabu-sabu. Tanpa pikir panjang aku mengajaknya menikah. Dan dia setuju. Beruntung dia memiliki keluarga yang terbuka, sehingga mereka tidak mempermasalahkan masa laluku yang kelam. Aku diterima dengan baik oleh mereka. Sejak mengenal Gita, baru aku bisa merasakan kehangatan keluarga. Aku lahir secara “ajaib”, maksudku aku tak punya ayah. Ibuku meninggal saat melahirkan aku. Nenek yang kemudian mengasuhku. Hanya saja, saat aku 6 tahun, nenek meninggal. Mulai dari situ, aku bergantian diasuh saudara-saudara ibu. Namun karena mereka semua miskin dan tidak sanggup membiayaiku, sejak SMP kelas 2 aku dititipkan di panti asuhan. Setelah lulus SMK, aku memilih hidup mandiri dan mulai merasakan kerasnya hidup di jalanan. Perlahan hidupku mulai hancur, sampai akhirnya aku bertemu dengan malaikat bernama Gita. Perempuan yang kini menjadi istriku

“Iya libur Dek, ayo kita jalan-jalan kemana,” ucapku padanya.

“Pengen ke Ganjuran Bang, ke sana yuk, sekalian pulang,” pintanya.
“Boleh,” kataku. Sejak menikah, kami sama sekali belum pulang ke Bantul, ke rumah orang tua Gita, dan sekarang sudah menjadi orang tuaku juga tentu saja. Setelah selesai membereskan kontrakan, kami segera berangkat menaiki motor matic. Gita memelukku erat, ini di luar kebiasaannya. Tak biasanya dia bersikap manja seperti ini.

Tepat tengah hari, kami tiba di sana. Meski begitu tempat itu terasa begitu teduh. Barisan pinus yang berjajar rapi melindungi badan kami dari teriknya matahari, dan keheningannya berikan kesejukan di hati kami. Setelah berdoa bersama di candi, kami beristirahat di pendapa depan gereja.

“Bang,” katanya, “aku mau kasih sesuatu buat kamu.” Aku menatapnya keheranan. Hari itu bukan hari ulang tahunku. Dan seingatku memang tak ada sesuatu yang penting di hari itu. Hari kami berjumpa, hari kami jadian, hari aku melamarnya , dan tentu saja hari pernikahan kami aku ingat semua. Aku memang mantan pecandu, tetapi ingatanku sangat tajam. “Dalam rangka apa?” tanyaku.

“Buka lah, nanti juga tahu,” jawabnya sambil menyodorkan bungkusan kado seukuran kotak pasta gigi. Aku menerimanya dengan wajah penasaran. Kotak itu terasa ringan, aku menguncangkannya di dekat telingan untuk mencari petunjuk sebelum aku membukanya. Dari suaranya, kotak itu berisi sesuau yang berbentuk panjang dan kecil. “Sikat gigi ya?” terkaku. Gita tersenyum kecil, dari sana aku tahu tebakanku salah.

Agar tak penasaran, aku mulai membuka kotak yang diberikan Gita. Saat mengintinya, aku melihat sesuatu berwarna putih, panjang di dalamnya. Termometer? Kurasa bukan. Ah, teryata sebuah tespack. Mungkinkah? Aku mempercepat gerakanku mengeluarka testpack dari kotak itu. Langsung mataku tetuju pada benda itu, kudapati ada dua garis biru. Entah apa yang harus ak katakan. Lidahku terasa kaku. Aku hanya mampu memandang istriku dengan penuh cinta. Gita tersenyum, lalu menganggukan kepala untuk mengkonfirmasi bahwa semua ini bukan mimpi. Aku memeluknya erat, tanpa sadar air mataku menetes karena bahagia.

***

“Bang!!! Sakit Bang!!!” pekik istriku. “Bayinya mau lahir.” Usia kandungan Gita baru 7 bulan lebih, seharusnya belum waktunya melahirkan. Sesuatu yang salah telah terjadi. Jantungku berdegup lebih kencang, perasaanku langsung tidak tenang. Segera aku menghampirinya. Gita merintih menahan sakit, kubelai lembut kepalanya dan memintanya untuk tenang. Sebenarnya aku sedang berusaha menenangkan diriku sendiri. Setelah merasa cukup tenang, aku meninggalkan Gita, dan berlari mencari pinjaman mobil ke tetangga kami. Beruntung, Pak Roto, ketua lingkungan kami sedang di rumah dan bersedia mengantar ke Rumah Sakit.

Di mobil Gita terus merintih kesakitan, tangannya menggenggam erat tanganku. Napasnya mulai terasa berat. “Tuhan, tolong jangan biarkan hal buruk terjadi padanya,” kataku dalam hati. Susah payah aku menahan air mataku. Bagaimanapun juga aku harus tetap tegar. Gita semakin sulit bernapas. Asmanya mulai kambuh. Tidak, aku tidak sanggup lagi, kubiar air mataku tumpah. “PAK, TOLONG CEPAT PAK!!!” teriakku sambil menangis. Aku meraih ventolin dari sakuku, segera kusemprotkan pada Gita. Aku harap, itu bisa membantu. Melihatku panic, Pak Roto menginjak gas lebih dalam. Mobil yang kami naiki melaju lebih kencang.

Kami langsung menuju IGD, para perawat dengan sigap menurunkan Gita dari mobil dan membawanya masuk. Security mencegahku untuk mengikutinya. Aku berdiri terpaku di ruang tunggu. Badanku lemas. Istri Pak Roto mengurus administrasi untuku. Sementara Pak Roto menemaniku. Beliau menepuk bahuku, dan memintaku untuk tegar. “Lelaki harus kuat,” katanya. Kuat? Bagaimana aku bisa kuat di kondisi seperti ini? “Doa adalah sumber kekuatan,” katanya lagi menyodorkan Rosario kayu berwarna coklat. Dengan tangan gemetar aku meraihnya. Pak Roto mengajakku duduk, dan aku mulai berdoa.

“Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.”

Aku percaya akan Allah, Bapa yang maha kuasa…. Ya Bapa, Engkau pencipta langit dan bumi, semua pasti akan baik-baik saja.

Bapa kami yang ada di surga…. Jadilah kehendak-Mu

Peristiwa pertama : Maria menerima kabar gembira dari malaikat Tuhan. Tujuh bulan lalu, di Ganjuran aku menerima kabar suka cita. Dan sebentar lagi sukacitaku akan menjadi sempurna. Anak pertamaku akan segera lahir. Menurut USG, dia perempuan. Aku dan Gita sudah memilih nama untuknya. Bernadetta, itu nama yang kami pilih. Gadis muda dari daerah pedesaan yang memperoleh kehormatan untuk berjumpa dengan Bunda Ilahi. Bernadeta juga merupakan Santa pelindung keluarga.

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus....

Seorang pria berjas putih datang menghampiriku. Aku tahu dia adalah Gabriel yang akan mewartakan sukacita padaku. Aku beranjak menyambutnya. “Pak Andra,” sapanya.

“Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin.” Begitu katanya. Kepalaku berdenging keras, dokter itu masih mengerakan bibir tetapi aku tak bisa mendengar apapun.

Maaf…. Maaf katanya? Tunggu…. Tunggu dulu. Jangan minta maaf. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Aku sudah sering mendengar ini di TV, setiap kali aku menonton sinetron, FTV atau apapun. Akhir dialogini tidak pernah bagus. Tidak… Dok tolong jangan katakan itu.

***

“Baiklah, kalau Kau tidak membiarkan aku bersama mereka, aku akan datang menemui mereka sendiri”

Aku berjalan menuju dapur, dan mencari kotak P3K. Di sana aku menemukan beberapa obat-obatan. Ada 3 butir paracetamol, 7 butir obat flu, ½ botol OBH, 3 obat anti alergi, dan beberapa butir obat yang tidak aku ketahui. Mungkin obat asma milik Gita. Mula-mula aku menegak habis OBH yang ada, lalu meminum obat-obatan yang ada dengan sebotol soda. Kepalaku terasa pusing. Badanku perlahan kehilangan tenaga. Kaki tak mampu lagi menopang berat badanku, sehingga aku terbaring di lantai. Pandanganku pun mulai kabur.

Sayup-sayup aku mendengar suara bayi menangis, aku tahu itu anakku. Aku susah payah berusaha berdiri dan mencari arah suara itu. Suara itu berasal dari luar rumahku. Aku melangkahkan kaki keluar dan terus mengikuti suara tangis bayi itu. Di tengah jalan aku melihat seorang perempuan bergaun putih mengendong bayi. Meski dari arah belakang aku tahu itu Gita, sedang mengendong buah hati kami. “GITA!” pekikku memanggilnya. Dia berbalik memadangku. Benar, itu Gita. Akhirnya kami kembali bisa bersatu kembali. Tenagaku belum pulih benar, aku tertatih mendekatinya. Saat semakin dekat seorang pria bertubuh besar menghalangiku. Gita kembali berjalan menjauh. Pria tadi tak membiarkan aku lewat, dia justru mendorongku hingga tersungkur. Segera aku bangkit dan mencoba melawan. Namun dia kembali mendorongku. Berkali-kali aku mencoba melawan, hasilnya sia-sia belaka, badannya terlalu besar, apalagi energiku belum pulih. Gita semakin menjauh. Aku merasa putus asa dan mulai menangis. Aku mengumpulkan sisa-sisa tenagaku untu melawan pria tadi. Aku bangkit berdiri menantangnya. Kukepalkan tinjuku kuat-kuat lalu ku ayunkan ke arah kepalanya sambil berteriak memanggil istriku. “GITAAA!!!”

BUUKK!!! Tangannya jauh lebih cepat menghantam dadaku, dan membuatku tumbang seketika.

***

Matahari pagi menyinari wajahku. Perlahan kubuka mataku. Aku tak tahu apa yang sudah terjadi, yang jelas, kini aku terbaring di RS. Di sampingku, kedua orang tua Gita duduk menungguiku. Ibunya membelai kepalaku. Mereka tersenyum saat melihatku siuman. “Gita, sudah tidak ada, anak kami sekarang tinggal kamu.” Kata ibu padaku.

“Sia-sia apa yang dilakukan Gita dulu padamu, jika kamu berbuat bodoh. Ibu mohon jangan biarkan itu terjadi. Kehidupan harus tetap berjalan meski yang terjadi bukan seperti yang kita inginkan. Sakit memang, tetapi waktu akan menyembuhkan rasa sakit itu. Gita akan selalu hidup, , cintanya akan selalu bersama kita. Semangatnya akan selalu menyertai sisa penziarahan kita di dunia ini. Tentu kamu ingat apa yang dulu Gita perjuangkan untukmu. Apa sekarang kamu ingin menghancurkannya?

Aku meraih tangan ibu dan menggenggamnya erat. Air mataku menetes. Ibu benar, tak sepatutnya aku bertindak bodoh. Jikaaku melakukannya semua yang telah kami perjuangkan menjadi sia-sia. Ibu mengusap air mataku.

“Jangan menangis, ini aku ibumu,” katanya lalu mencium keningku.

Share :