Renungan


Beralih ke Hal Baru
Hilarius Marvy - 07 Jan 2020, 20:59

Beralih ke Hal Baru

Di pedalaman hutan sebuah pulau yang sangat indah, terdapat suatu desa bernama Deiyai. Hawa sejuk ditambah kicauan burung, suara-suara binatang hutan yang ramai menandakan keindahan Desa Deiyai.  Akan tetapi akses transportasi menuju Deiyai sangatlah sulit. Tak ada sarana tranportasi untuk menuju ke sana, satu-satunya cara untuk datang ke Deiyai hanyalah dengan berjalan kaki melewati gunung, lemba dan rawa-rawa. Selain sulit, perjalanan menuju desa tersebut juga sangatlah berbahaya, karena ketika menyusuri hutan, selalu ada resiko untuk bertemu binatang buas. Kondisi seperti ini, membuat Deiyai sangat terisolasi. Belum pernah ada orang yang datang mengunjungi desa itu. Sehingga penduduk Deiyai tidak pernah mengetahui perkembangan dunia saat ini. Desa Deiyai hanya dihuni beberapa keluarga yang merupakan suku asli di sana. Mereka hidup dengan mengandalkan alam. Sisi positifnya, kondisi mereka yang terisolasi membuat adat-istiadat mereka masih terjaga teguh. Berbagai macam ritual keagaaman masih mereka lakukan dengan taat.

Di Deiyai hiduplah seorang anak bernama Sutojo. Sutojo berbeda dengan kebanyakan anak di desa. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan juga memiliki semangat belajar yang besar. Sutojo suka sekali bereksplorasi untuk menemukan sesuatu yang baru. Sayangnya karena kondisi desa yang memprihatinkan, akses untuk belajar menjadi sangat susah. Tidak ada sarana belajar dan tenaga pengajar di desa itu. Jangankan fasilitas belajar, fasilitas kesehatan pun belum ada.

Suatu ketika, Sutojo menemukan sebuah buku di tengah perjalan pulang dari berburu. Akan tetapi Sutojo belum mengetahui kalau yang ia temukan itu buku. Buku itu sangat menarik perhatiaannya, ini kali pertama baginya melihat buku. Sutojo pun membawa buku itu pulang. Di rumah ia terus membolak-balik buku itu, meski tidak mengerti apa yang tertulis di dalamnya. Sutojo terus berusaha memahami isi buku itu dan mengenali huruf-huruf yang tertera. Hal ini menumbuhkan kesadaran bahwa ada sesuatu yang lain di luar sana. Setelah berbulan-bulan mempelajari buku yang ditemukannya, Sutojo mulai mengerti isi buku itu dan sedikit-demi sedikit mulai bisa membaca dan menulis. Untuk menulis ia menggunakan kayu arang sisa pembakaran sebagai pengganti pensil, sedang kertasnya ia mengunakan batu yang berukuran besar sebagai sarana tempat ia menulis.

 

Di suatu hari ketika Sutojo sedang berburu ia menemukan seorang perempuan yang sangat cantik yang sedang terbaring lemas di semak-semak. Perempuan itu tampak pucat sekali, kondisinya sangat memprihatinkan tubuhnya penuh dengan luka dan kurus sekali seperti belum makan selama berhari-hari. Karena tidak tega Sutojo pun langsung menolong gadis itu dan membawanya ke desa untuk merawatnya. Masyarakat di desa sangat asing dengan orang itu karena penampilannya yang berbeda dan juga perlengkapan-perlengkapan yang dibawanya. Ketika sudah sadar gadis itu sangat takut dan merasa asing dengan pendukuk setempat, bahasa yang digunakan juga tidak ia mengerti. Ketika Sutojo tau bahwa orang itu sudah sadar ia pun segera menghapirinya. Pendukuk sekitar tidak dapat mengerti bahasa yang digunakan oleh orang itu, kemudian Sutojo mulai memperaktekan apa yang sudah ia dapatkan selama belajar dari buku yang ia temui beberapa waktu yang lalu.

Secara perlahan Sutojo berbicara dengan orang asing itu. “Pepeperknlakan nami ake Utojo, ake jang kemarin olong kame di emak-emak. Nami kame siape? Orang asing itu sangat senang karena akhirnya ada orang yang dapat berbicara dengannya, meski ucapan Sutojo tidak jelas. Kemudian kadis itu mulai memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuannya pergi ke pulau itu. “perkenalkan nama saya Linda, saya ke sini memang sedang berpetualang untuk mencari desa Deiyai. Saya sudah jalan selama 14 hari teman-teman saya sudah kembali pulang karena mereka tidak kuat lagi berjalan dan perbekalan yang kami bawa sudah habis semuanya. Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja saya yakin bahwa saya akan sampai ke desa ini dan akhirnya kamu membawa saya sampai ke tempat yang saya harapkan. “

 Setelah berbicara dengan orang asing  itu Sutojo pun mulai tahu kenapa ia bisa terdampar di desa yang terpencil itu. Orang itu bernama Linda, ia memang sedang mencari desa tempat Sutojo tinggal. Banyak orang yang mencari keberadaan Desa Deiyai tapi tidak berhasil. Linda satu-satunya orang yang berhasil sampai ke desa itu.

 Ketika sudah tinggal di desa itu beberapa hari Linda pun merasa nyaman untuk tinggal di desa, karena ditemani Sutojo. Sutojo juga belajar banyak hal dari Linda. Ketika Linda melihat perlengkapan yang ia bawa untuk menjelajahi hutan di tasnya ia menenukan  handphone miliknya. Ia sangat senang sekali karena handphonenya masih ada dan ditambah baterai cadangannya. Linda pun mulai memperkenalkan handphone  kepada Sutojo,

“Lihat ini Sutojo, benda ini namanya Handphone biasanya kami memakainya untuk berkomunikasi dan belajar banyak hal”. Sahut Sutojo dengan semangat “ bebebelajer bonyok hol kate mu, ake ingin sekali belajer agar ake semakin pandai”. Meminta kepada Linda dengan penuh harapan. Akhirnya ia mengajarkan Sutojo cara menggunakannya.

“Ini namanya media sosial Facebook, Instagram, WA sedangkan kalo kamu mau belajar tentang ilmu pendidikan kamu bisa akses lewat belajar.USD atau Quiper school. Kalau kamu mau mengakses berita kamu bisa buka di berita elektronik. Jika kamu menggunakan sarana ini kamu juga bisa membantu merawat bumi, karena tidak perlu lagi penggunaan kertas.”. Dengan semangat Linda menerangkan ke Sutojo. Melalui handphone itu semakin membuat Sutojo semangat untuk belajar.  Melalui alat komunikasi itu Sutojo dapat belajar banyak hal wawasannya tentang dunia bertambah dan mulai terbuka. Ia pun mulai mengajarkan teman-temanya untuk dapat membaca dan menulis.

Pada malam hari ketika Sutojo dan Linda sedang menikmati indahnya bulan purnama Sutojo di panggil kepala suku.  Kepala suku tahu bahwa Sutojo mengajarkan hal baru dari dunia luar kepada masyarakatnya, kepala suku itu sangat marah. Ia marah karena takut adat istiadat yang ada di suku  Deiyai menjadi hilang. Sutojo pun menjelaskan kepada kepala suku bahwa alat komukasi atau teknologi bukan lah suatu yang tabu. Ia meyakinkan kepala suku bahwa teknologi tidak akan merusak adat istiadat di desa malah akan membuat orang-orang  di desa semakin maju dalam segi intelektual. Akan tetapi  kepala suku tetap melarang penggunaan teknologi di desanya. Meskipun sudah dilarang Sutojo tetap mengajarkan pengetahuan tentang dunia luar kepada teman-temannya, sehingga semangat mereka untuk terus belajar semakin bertambah. Linda pun menghubungi tema-temanya bahwa ia selamat dan sampai ke desa yang ia tuju. Selang beberapa hari teman-teman Linda mulai berdatangan dan membawa berbagai macam  teknologi yang canggih yang membuat mereka bisa belajar dan menambah wawasan orang orang di desa.

Orang –orang di desa pun sangat senang sekali karena mereka kedatangan orang-orang baik yang membantu mereka untuk dapat mengenalkan berbagai sarana informasi dan komunikasi.  Ketika ilmu yang dibagikan sudah menyebar keseluruh desa, kepala suku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia melihat bahwa terjadi perkembangan yang dimiliki desanya akibat dari teknologi tersebut. Melalui sarana teknologi mempercepat arus informasi dan membantu warga desanya dalam mencari informasi. Desa Deiyai juga mengalami perkembangan dalam dunia pendidikan serta kesehatan. Selain itu mulai dibangun infrastruktur seperti jalanan menuju ke desa. Teknologi yang ditawarkan menjadi suatu jembatan bagi Desa Deiyai untuk dapat belajar lebih banyak mengenai perkembangan dunia zaman ini. Kepala suku mulai terbuka akan teknologi yang ditawarkan, ia mau mencoba dan belajar menggunakan alat komunikasi.

Desa pun semakin maju, para donatur mulai berdatangan silih berganti membantu dan menyedikan kebutuhan yang di perlukan seperti  komputer, handphone, listik dan internet. Walaupun pemikiran mereka sudah maju mereka tidak melupakan adat serta ritual-ritual keagaamaan yang menjadi ciri khas mereka.  Desa Deiyai juga belajar mengenal agama dari luar yang selama ini tidak mereka kenal. Alat komunikasi yang diperkenalkan oleh Linda menjadi sebuah jembatan bagi mereka untuk belajar. Berani untuk mengembangkan diri melalui sarana yang dulunya asing bagi mereka dan kini menjadi akrab dengan mereka. Desa Deiyai berani untuk melakukan “Mode On”, keluar dari zona nyaman mereka dan menyalakan semangat akan perkembangan teknologi yang tidak bisa disangkal lagi. Meskipun terdapat adat istiadat dan tradisi yang kental mereka tetap mencoba membuka pikiran yang baru bahwa teknologi bukan menjadi penghalang atau hal yang tabu bagi perkembangan zaman saat ini. Mereka beranggapan adat dan tradisi yang dulu bukan menjadi suatu penghalang bagi mereka untuk berani memutuskan menggunakan teknologi zaman ini, memang tidak mudah butuh perjuangan untuk berani keluar dari zona nyaman itu.

Desa itu pun akhirnya menjadi subuah tempat yang  maju dengan segala kecanggihan yang dimiliki. Selain itu karena kondisi Desa Deiyai yang masih sangat sejuk membuat orang-orang berdatangan untuk menikmati suasana alam yang segar.

 

Share :