Renungan


Menjalin Suatu Ikatan
Hilarius Marvy - 03 Nov 2019, 12:01

 

            Dalam kehidupan berelasi, ada ungkapan yang mengatakan bahwa “Tak kenal maka tak sayang”. Ungkapan ini berarti mengenal menjadi syarat untuk mencintai.  Jika seseorang hanya sebatas berelasi tanpa adanya ikatan yang akrab atau dekat, maka ia tidak akan mengenal seperti apa sejatinya sahabatnya itu. tetapi ketika seseorang mengenal sahabatnya secara dekat, tentu ia akan mengerti dan memahami dengan pasti siapakah sahabatnya itu dan mendasarkan relasinya dengan kasih, perhatian, dan cinta kepada sesama. kiranya ungkapan ini dapat kita pakai dalam konteks kehidupan pergulatan keberimanan kita.

            Tuhan Yesus menyapa dan bertanya kepada kita semua melalui Injil hari ini. Injil hari ini mengisahkan tentang pengenalan para murid dan konsekuensi mengikuti Tuhan Yesus. Tuhan Yesus ingin mengetahui kepastian para murid-Nya: Apakah para murid sungguh mengenal-Nya? Tuhan Yesus mulai bertanya kepada murid-murid-Nya “Kata banyak orang siapakah Aku ini?” kemudian mereka menjawab “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, ada juga yang mengatakan salah seorang nabi dari zaman dahulu yang telah bangkit”. Dari jawaban-jawaban tersebut kita dapat mengetahui bahwa ternyata pengenalan terhadap Tuhan Yesus itu bermacam-macam. Pengenalan terhadap Tuhan Yesus tersebut sangat bergantung pada kedekatan dan keakraban yang termuat dalam pengalaman hidup personal setiap orang.

            Lantas Tuhan Yesus kembali mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar kepada murid-murid-Nya “Menurut kalian siapakah Aku ini? Tuhan Yesus memberikan pertanyaan secara lebih personal kepada mereka yang setiap hari bersama-sama dengan-Nya.Tuhan Yesus menghendaki agar para murid mengenal-Nya tidak sebatas dari perkataan orang lain tetapi sungguh mengalami dan merasakan sapaan Tuhan secara personal. Tuhan Yesus berusaha mengubah pola pikir para murid agar mereka sungguh mendasarkan pengenalan akan Tuhan Yesus berdasarkan pengalaman konkret denganNya sendiri. Sehingga para murid tidak mudah diombang-ambingkan oleh situasi di sekitar mereka yang memiliki pemahaman dan pengenalan yang bermacam-macam terhadap Tuhan Yesus.

            Akhirnya Petrus dengan jelas dan tegas menjawab pertanyaan Tuhan Yesus “Engkau adalah Mesias dari Allah”. Jawaban Petrus ini menjadi puncak pencarian setiap orang yang ingin mengenal Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus menghendaki iman para murid secara personal melalui pengalaman keseharian akan penyertaan, bimbingan, ketersentuhan, dan sapaan Tuhan Yesus. Tidak hanya sebatas mengenal dan memahami identitasNya, Tuhan Yesus juga mengingatkan konsekuensi bagi para murid yang mengikutiNya. Konsekuensi inilah yang kita kenal sebagai salib. Salib yang justru semakin meningkatkan penghayatan iman para murid karena harus rela menanggung kesukaran, penderitaam, ditolak, bahkan dibunuh.

            Kita semua adalah murid-murid Tuhan Yesus yang senantiasa mengembangkan iman di tengah pergulatan hidup sehari-hari. Pada hari ini, Tuhan Yesus meminta ketegasan iman kepada kita semua. Kita diharapkan sungguh semakin mengenalNya secara personal dan mengimaniNya sebagai Mesias dalam hidupku. Kita diminta untuk mendasarkan kehidupan kita atas pengenalan yang kita alami secara personal terhadap Tuhan Yesus bukan hanya dari orang lain. Pengenalan personal inilah yang menjadikan kita merasa damai, aman, dan tidak kawatir menghadapi pergulatan hidup sebab Tuhan Yesus selalu menyertaiKu. Hal inilah yang diteladankan oleh santo Vincensius a Paulo. Ia sungguh mengenal dan dekat dengan Tuhan Yesus secara personal dalam kehidupannya. Santo Vincensius a Paulo mengalami ketersentuhan, sapaan Allah melalui orang-orang yang miskin dan sakit di sekitarnya. Ketersentuhan itu semakin membuat Beliau mengimani Mesias yang menyelamatkan. Kemudian ia membagikan hidupnya bagi mereka yang miskin dan sakit serta memberikan penghiburan kepada mereka.

            Bagi kita semua, pertanyaan yang bisa kita renungkan adalah sejauh mana aku mengenal Tuhan secara personal? Adakah aku mengalami pengalaman ketersentuhan, penyertaan, dan sapaan Tuhan dalam menghadapi pergulatan hidup sehari-hari? Dan sudahkan aku memandang salib sebagai jalan pemurnian iman kepada Tuhan Yesus? Semoga rahmat Allah membantu kita untuk semakin mengalami dan mengenal Tuhan lebih dekat dan personal seta memandang salib sebagai jalan penganugerahan rahmat-rahmat yang meneguhkan iman kita. Amin,

 

 

 

Share :