Renungan


Jaminan Dalam Kehidupan
Hilarius Marvy - 02 Nov 2019, 03:36

 

            Dalam hidup beriman, seringkali kita mencari suatu tanda yang memberi kepastian dan jaminan bahwa Allah sungguh berkarya. Dalam salamnya kepada jemaat di Roma, Paulus menegaskan identitas dirinya sebagai rasul untuk memberitakan Injil Allah. Jemaat di Roma bukan didirikan oleh Paulus. Jemaat Kristen di Roma sudah tumbuh sebelum Paulus datang ke kota itu. Paulus perlu menegaskan Identifikasi dirinya sebagai rasul agar jemaat mengakui pewartaannya. Paulus memberitakan Yesus yang dengan wafat dan kebangkitanNya dikenal sebagai Anak Allah. Paulus menerima tugas kerasulan untuk menuntun semua bangsa agar percaya kepada Kristus

            Sedangkan dalam Injil, Tuhan Yesus memberi peringatan keras kepada mereka yang meminta tandaNya. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus”. Kita semua tahu bahwa nabi Yunus dengan awal kisahnya berada dalam perut ikan selama tiga hari diutus oleh Allah untuk menjadi tanda pertobatan bagi orang-orang Niniwe. Sama halnya Anak Allah yang berkuasa yakni Tuhan Yesus Kristus juga berada dalam kegelapan makam dan bangkit pada hari ketiga. Ia menjadi tanda yang membawa pesan keselamatan bagi semua bangsa. Tuhan Yesus membandingkan diriNya dengan nabi Yunus.

            Tuhan Yesus mengkritik orang-orang yang mendasarkan kepercayaannya pada tanda atau mukjizat yang ditangkap sebagai keajaiban yang mengagumkan. Tuhan Yesus menghendaki bahwa tanda yang dinyatakan dengan berbagai mukjizat mengarahkan orang-orang untuk mengakui, mempercayai, dan berserah diri kepadaNya.

 Tanda atau mukjizat bukanlah syarat mutlak yang harus terjadi agar kita dapat beriman. Kita tidak usah mencari-cari tanda. Kasih Allah itu nyata dalam setiap nafas kehidupan yang kita terima, alam ciptaan, anugerah semangat mengikuti perayaan Ekaristi dan lain sebagainya. Kita hanya perlu mengasah kepekaan intuisi rohani kita. Kepekaan rohani ini membantu kita untuk melihat, mengakui, dan mensyukuri bahwa kita dianugerahi berbagai macam mukjizat atau tanda yang hendaknya semakin memperkuat iman dan penyerahan diri kepada Allah.

Share :