Renungan


Bagiku apa ukuran perbutan baik
Hilarius Marvy - 13 Sep 2019, 22:30

 

Ukuran pasti dari suatu kebaikan adalah bahwa suatu yang dihasilkan itu ada ujudnya. Dengan kata lain adalah bahwa memang ada perbuatan yang kelihatan, yang berlangsung secara konstan. Kebaikan tersebut tidak hanya “dimaksudkan” tetapi dilakukan. Mengapa demikian ? yaa, alasannya karena orang tidak akan pernah menilai sauatu kebaikan hanya masih ada dalam maksud. Dalam bahasa filsafat kita biasa menyebutnya sebagai –actus-. Segala sesuatu yang ada dalam –potensi-, baru akan kelihatan jika di-actus-kan.

Dalam bacaaan yang barusan kita dengar Tuhan memberikan ukuran kebaikan. Menurut Yesus, setiap orang dikenal dari perbuatannya.  Orang yang baik akan menghasilkan perbuatan perbuatan yang baik. Orang yang jahat akan menghasilkan perbuatan- perbuatan yang jahat. Apa yang dikatakan Yesus ini adalah hukum yang umum bahwa normalnya sesuatu dusebut baik karena kelihatannya baik secara umum dan diterima oleh semua orang. Kata-kata Yesus ini bukan berarti suatu stigmatisasi terhadap kita. Kata-kata ini sekaligus menjadi suatu tantangan bagi kita untuk terus belajar menjadi orang baik. Mungkin saja dulunya kita adalah orang yang buta terhadap segala kebaikan, tetapi kita di hadapan Tuhan adalah seorang murid yang terus belajar untuk menjadi baik. Kita belajar untuk mengeluarkan “balok-balok” kebodohan, kejahatan, dan ketidakadilan dari diri kita sendiri sebelum kita menjadi guru bagi sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya secara pribadi atau mungkin kita pada umumnya pasti selalu mempunyai niat untuk mengupayakan yang baik dalam setiap waktu dan tempat. Setiap pagi, entah sadar atau tidak dengan kita berdoa, itu sudah menunjukkan suatu kesadaran akan perbuatan baik yang akan kita lakukan sepanjang satu hari kedapan.  Dan sebelum sampai pada tindakan konkrit, tak jarang kita juga entah sengaja atau tidak, setidaknya mengungkapkan niat-niat baik itu dalam kata-kata. Contoh, “bar rampung kuliah aku pengen langsung garap tugas, bar kui nyicil rapike sakristi.” Dengan ungkapan seperti itu, sebetulnya sudah merupakan potensi untuk berbuat baik. Namun alangkah lebih baik lagi bila tidak perlu diungkapkan.  Atau dalam satu hari ini kita punya niat untuk tidak membicarakan kekurangan orang lain, dsb. Nah selanjutnya apakah itu di actus kan atau tidak, itulah yang akan menjadi ukuran dari suatu tindakan baik.

Perjuangn untuk terus belajar berbuat baik akan sangat membantu kita untuk mengenal diri kita sendiri dan perbuatan-perbuatan kita, apakah perbuatan –perbuatan yang kita lakukan dapat diterima oleh semua orang sebagai yang baik dan apakah perbuatan-perbuatan itu lahir dari nurani kita atau hanya sekedar memenuhi tanggungjawab –aku melakukan itu yaa karena itu tugasku- atau lebih parah lagi, perbuatan baik itu hanya sebagai suatu alasan untuk menutupi kesalahan kita. Yaa, marilah kita belajar dari cara hidup Yesus sendiri. Bagaimana Ia berkata dan bersikap. Ia tidak menghakimi melainkan merangkul kita orang yang berdosa. Ia tidak meninggalkan kita ketika meminta pertolongan-Nya. Itulah kebaikan-kebaikan tetap yang perlu menjadi pelajaran bagi kita seumur hidup karena kita diselamatkan berdasarkan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan.

Bagiku apa ukuran perbutan baik? dan apakah selama ini kita sudah mengupayakannya ?

 

Share :