Renungan


Tiba-tiba Cinta
Brian Laluyan - 13 Sep 2019, 11:58

 

 

 

 

Beberapa bulan ini, perhatian Frater Christ seluruhnya tercurah pada dokumen-dokumen dan buku-buku tebal. Sebagai calon imam, ia tidak hanya dituntut rajin berdoa tetapi juga perlu rajin belajar. Oleh karena itu, dewasa ini ia banyak membaca literatur baik yang berbahasa Inggris maupun Italia untuk menyusun tugas akhir berupa karya tulis alias skripsi.

Sebulan menjelang batas waktu pengumpulan skripsi, Frater Christ masih belum menampakan tanda memasuki bab terakhir. Oleh dosen pembimbing, ia malah diminta untuk mengembangkan lagi kajian skripsinya dengan menambahkan satu bab baru diluar rencana proposal awal. Hal itu membuat hati Frater Christ gundah gulana. Dalam hati ia bertanya, “Apakah aku mampu menyelesaikan semua ini di tengah waktu yang terbatas dan tanggungjawab lain yang harus kukerjakan di komunitas?”

Dalam ordonya, ada tradisi bahwa setiap frater diutus untuk pelayanan asistensi di Paroki-paroki maupun stasi-stasi selama perayaan Paskah. Tugas macam itu sebenarnya selalu ditunggu-tunggu karena akan memberikan banyak pengalaman baru yang berguna bagi pelayanan sebagai imam kelak. Hanya saja, untuk kali ini, Frater Christ berharap untuk tidak mendapatkan perutusan asistensi di tempat yang jauh sehingga mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan skripsi. Namun, perutusan tetaplah perutusan. Ia ternyata mendapatkan tempat perutusan yang cukup jauh yakni di Stasi Candipayung di bawah kaki Gunung Roto. Di saat seperti inilah, janji ketaatannya seolah diuji untuk dibuktikan.

***

Menurut cerita para pendahulunya, letak stasi Candipayung cukup jauh dari paroki dan biasanya seorang frater yang bertugas di situ akan dipersilahkan untuk menempati satu kamar yang ada di belakang kapel dimana tersimpan sebuah tutup peti mati. Beruntung bahwa Frater Christ bukanlah seorang yang penakut. Gambaran kesunyian kamar di kapel stasi bakal tempat perutusannya tersebut malah dilihatnya sebagai kesempatan yang tepat untuk berefleksi dan melakukan hobinya yakni membaca. Oleh karenanya, selain bersiap diri dengan packing segala kebutuhan untuk pelayanan ibadat selama Pekan Suci, dia sengaja membawa sangu beberapa buku bacaan yang akan dipakainya sebagai teman dalam kamar yang kata banyak orang horor itu. Dia pun sempat berpikir, alangkah beruntung jika di kamar itu dirinya kemudian mendapat hadiah Paskah berupa insight untuk satu bab baru skripsi yang dituntut oleh dosen pembimbing.

***

Frater Christ tiba di kapel stasi Candipayung sekitar pukul enam sore. Waktu itu ketua lingkungan langsung mengajak Frater Christ menuju ke sebuah rumah yang tidak jauh dari kapel. Ternyata di rumah itulah dia telah disiapkan tempat bernaung untuk beberapa hari ke depan. Umat lingkungan Candipayung tidak tega membiarkan dia tinggal sendirian di kapel. Oleh karena itu, dia tidak jadi tinggal di kamar horor belakang kapel seperti kata banyak pendahulunya tetapi di rumah sebuah keluarga Katolik lingkungan tersebut.

Setelah dipersilahkan menempati satu kamar, tanpa basa-basi, Frater Christ langsung menghabiskan malam pertama di Candipayung itu untuk beristirahat. Maklum, perjalanan dari biara, tempat tinggalnya, sampai di tempat perutusannya tersebut cukup melelahkan. Syukur bahwa situasi rumah tempat singgahnya cukup tenang. Selain dapat beristirahat, dia dapat menyiapkan renungan untuk ibadat-ibadat Tri Hari Suci yang akan dipimpinnya mulai esok sore.

***

“Bagaimana Frater, semalam bisa tidur?” tanya Pak Harno, tuan rumah tempat tinggal Frater Christ.

“Oh, sangat bisa, Pak! Ini buktinya, saya bangun kesiangan,” jawab Frater Christ.

“Hahaha, sekali-kali bangun siang juga tidak apa to, Frater? Omong-omong Frater mau minum teh atau kopi?” tawar Pak Harno kepada frater.

“Wah kebetulan Pak, pagi hari yang dingin ini, rasanya cocok jika minum kopi panas,” jawabnya menerima tawaran sang tuan rumah.

“Itu betul sekali frater. Biarlah Ratri yang buatkan.”

“Ratri, tolong buatkan kopi untuk frater, nduk!” seru Pak Harno.

***

Beberapa saat kemudian muncullah seorang gadis cantik bak bintang film korea datang membawa secangkir kopi.

“Perkenalkan frater, ini Ratri, anak saya yang bungsu. Kemarin dia pulang malam sehingga belum sempat bertemu frater.”  ujar Pak Harno.

Sambil meminum secangkir kopi yang masih panas itu, Frater Christ mendengar kisah Pak Harno yang mengaku memiliki empat orang anak. Tiga anaknya telah berkeluarga. Sedangkan, Ratri, putri bungsunya masih kuliah semester enam di sebuah universitas ternama di Ibukota.

“Frater, sebagaimana tradisi keluarga kami pada masa Paskah, saya mewajibkan anak-anak untuk pulang kampung. Jadi maaf, jika nanti rumah ini jadi ramai.” jelas Pak Harno.

“O nggak masalah Pak. Toh saya juga hanya numpang untuk beberapa waktu saja.”

Tidak lama setelahnya, ketua lingkungan datang. Kemarin dia memang membuat janji untuk mengajak Frater Christ berkunjung ke rumah-rumah umat lingkungan Candipayung. Oleh karena itu, Frater Christ segera menghabiskan kopi di cangkirnya dan mohon pamit kepada Pak Harno.

***

Frater Christ berkeliling untuk mengunjungi rumah-rumah umat dari pagi sampai siang hari. Sepulang dari kunjungan tersebut, dia berniat untuk istirahat. Apalagi sorenya, ia sudah harus mulai memimpin ibadat Kamis Putih.

Namun, apa yang dikatakan Pak Harno sungguh terjadi. Anak-anak beserta mantu dan cucu-cucunya datang meramaikan rumah yang awalnya sepi itu. Sebagai tamu di rumah itu, Frater Christ merasa nggak enak kalau langsung masuk kamar. Maka, ia menyempatkan diri untuk menjumpai dan menyapa keluarga besar Pak Harno tersebut.

Beruntung bahwa anak-anak Pak Harno suka cerita. Apapun bisa menjadi bahan pembicaraan yang seru sehingga mengobati rasa capai dan kantuk Frater Christ. Dia senang bisa bercengkrama dan mengenal keluarga besar Pak Harno sambil menyeruput secangkir kopi hasil kebun sendiri yang disajikan oleh Ratri. Selain itu, Frater Christ menjadi semakin kerasan tinggal di situ karena kesamaan selera makanannya dengan keluarga tersebut yakni serba pedas dan penggemar buah durian.

***

Sampai tak terasa sudah tiba Sabtu Paskah. Itu berarti hari ini merupakan hari terakhir masa asistensi Frater Christ di stasi Candipayung. Begitu banyak pengalaman telah diperolehnya. Keramahan, keguyuban, dan rasa nyedulur segenap umat serta keluarga Pak Harno yang boleh dialaminya selama asistensi kali ini sungguh membuatnya seolah ingin berlama-lama tinggal di Candipayung. But, the show must go on. Besok ia sudah harus meninggalkan stasi ini.

Setelah ibadat dan perjamuan makan malam Paskah bersama seluruh umat di kapel, Frater Christ kembali ke rumah Pak Harno. Karena mungkin kelelahan dalam persiapan Paskah sejak tadi pagi, Frater Christ mendapati Pak Harno beserta anggota keluarganya yang lain lekas tidur. Namun, dia sendiri tidak langsung tidur. Ia justru berniat menikmati malam terakhir di stasi tempat pertama kali dirinya memimpin penuh ibadat Tri Hari Suci.

Malam itu, Frater Christ sengaja keluar rumah. Ia duduk di kursi panjang yang ada di teras rumah Pak Harno sambil memetik dawai gitar. Ia mengisi malam terakhirnya di Candipayung dengan bersenandung di tengah malam yang dingin. Bisa jadi karena mendengar lantunan merdu suaranya, Ratri terbangun dan menemuinya di teras rumah.

“Frat, mau Ratri buatin kopi?” tawar Ratri.

“Boleh.” jawabnya.

***

Tidak lama berselang, Ratri datang menyuguhkan secangkir kopi panas. Ia lantas duduk di samping Frater Christ dan ikut bernyanyi. Suara Ratri ternyata cukup merdu. Jika mereka bernyanyi duet, bisa jadi tidak kalah dengan Bunga Citra Lestari dan Ari Lasso.

Ketika Frater Christ berhenti sejenak untuk menyeruput kopi, Ratri mulai bercerita. Ia pun tidak kalah jago dengan kakak-kakaknya yang suka bercerita sehingga menambah keakraban di antara mereka berdua malam itu. Namun, tiba-tiba air mata Ratri mengucur keluar dari kedua matanya yang sipit. Ia menangis saat mencoba membagikan pengalaman masa kecilnya yang penuh perjuangan.   

Mendapati situasi macam itu, ada sesuatu yang muncul dalam diri Frater Christ. Selain rasa belas kasih, ada getaran dalam hatinya. Apakah itu cinta? Tampaknya, tiba-tiba cinta datang pada Frater Christ. Ia mengambil sapu tangan dalam sakunya dan mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis di sampingnya itu.

Syukur, Frater Christ lekas tersadar bahwa disinilah saat bagi dirinya untuk belajar mencintai dengan murni. Cinta yang tulus. Cinta yang membuat dekat tanpa harus melekat. Oleh karenanya, ia kemudian mencoba untuk memberikan penghiburan kepada gadis yang sempat menggetarkan hatinya itu dengan mengajak doa bersama dan mengajak istirahat.

***

Keesokan harinya, tiba saat untuk sayonara. Setelah berkemas, Frater Christ berpamitan kepada semua anggota keluarga Pak Harno. Kemudian, tiba-tiba Pak Harno memberikan sebuah amplop.

“Apa ini, Pak?” Frater Christ sebenarnya sudah tahu bahwa isi amplop tersebut adalah sejumlah uang. Namun, karena ingin setia pada janjinya untuk hidup miskin, ia berusaha mencari cara untuk mengalihkan pemberian itu.

“Ini bukan apa-apa kok frater, dibawa saja!” jelas Pak Harno.

“Pak Harno, terima kasih, amplop ini saya terima dengan senang hati. Nah, karena sekarang sudah menjadi milik saya, saya hendak memberikan amplop ini kepada Ratri.” katanya kepada Pak Harno.

“Ratri, pakailah ini untuk kegiatanmu bersama teman-teman muda di stasi ini! Jadikanlah ini sebagai perwujudan cintaku yang ingin mengasihi bukan hanya kamu seorang melainkan juga untuk semakin banyak orang.” katanya kepada Ratri sambil menyerahkan amplop di tangannya.

***

Dalam perjalanan pulang, Frater Christ kembali menyusun rencana pribadi. Selama lima hari belakangan ini, praktis ia tidak sempat membuka buku. Oleh karena itu, ia mencoba menggunakan waktu yang tersisa untuk merampungkan skripsi. Ia berharap dapat merampungkannya sebelum deadline yang ditentukan fakultas.

Hanya saja, sesampainya di Biara, ia terkenang akan pengalaman yang baru saja dialaminya. Secara khusus, pengalaman malam terakhir di Candipayung terus datang membayanginya. Apakah itu yang namanya tiba-tiba cinta?

***

 

Setelah menuliskan daftar pustaka di bagian akhir skripsinya, Frater Christ mencoba menjawab pertanyaan tersebut dalam buku harian sambil ditemani secangkir kopi buatannya sendiri.

 

Share :