Renungan


Kisah Anak Yang Hilang
Brian Laluyan - 30 Mar 2019, 08:49

          Pada Minggu Prapaskah ke-IV ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan bacaan Injil tentang “Kisah Anak Yang Hilang”. Kisah ini digunakan oleh Yesus untuk menjelaskan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, dasar Dia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama dengan mereka. Dalam kisah tersebut, Yesus menampilkan tiga tokoh utama yaitu si bungsu, bapa, dan si sulung.  Dari ketiga tokoh tersebut, Yesus ingin menjelaskan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Pertama, tentang siapakah orang yang berdosa itu? Kedua, tentang siapakah orang berdosa yang dapat diselamatkan? Ketiga, tentang bagaimana sikap yang seharusnya terhadap orang berdosa? Dengan menggunakan kisah ini, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat diharapkan dapat memandang orang berdosa bukan sebagai “orang yang jauh” melainkan sebagai “orang yang dekat” yang dicintai, yang diampuni.

Pertama, tentang siapakah orang berdosa itu? Dalam “Kisah Anak Yang Hilang” orang berdosa digambarkan sebagai si bungsu, si bungsu yang meminta “harta kekayaan” kepada ayahnya. Lalu, setelah mendapatkan harta kekayaan, dia menjual seluruh harta kekayaan itu, dia pergi dari “rumah bapa”, dia pergi meninggalkan “bapa”, dia pergi memutus “ikatan keluarga dengan bapa”, ke suatu negeri. Negeri itu, negeri yang jauh. Di negeri itu, dia memboroskan hartanya sampai habis dengan hidup berfoya-foya. Di negeri Itu, dia menjadi melarat. Di negeri itu, terjadi bencana kelaparan, dan di negeri itu, ia sungguh-sungguh mengalami kelaparan, bahkan sebagai budak di peternakan babi, ampas babi pun tidak dia dapatkan dari orang-orang di negeri itu. Dengan demikian, orang yang berdosa adalah mereka yang meninggalkan rumah bapa, meninggalkan bapa, meninggalkan keluarga bapa. Demi tinggal di suatu negeri yang jauh, suatu negeri yang memberi kesenangan “sesaat” yang berakhir dengan penderitaan “kekal”. Suatu negeri yang mengubah status “anak” menjadi status “budak”.

Kedua, tentang siapakah orang berdosa yang dapat diselamatkan? Dalam “Kisah Anak Yang Hilang”, orang berdosa yang diselamatkan digambarkan sebagai si bungsu, si bungsu yang mulai menyadari keadaannya, dia menyadari bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah negeri itu, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah rumah bapa, kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah hidup berfoya-foya, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah hidup bersama keluarga, kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah harta kekayaan melainkan pribadi bapa.  Pribadi bapa inilah yang pada akhirnya menggerakkan si bungsu untuk bertobat, bangkit, dan pergi kepada bapanya untuk mengatakan, “Bapa aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut sebagai anak bapa, jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”. Dengan demikian, orang berdosa yang diselamatkan adalah mereka yang bertobat. Bertobat berarti berbalik. Dari kebahagiaan “semu” kepada kebahagiaan “sejati”. Dan kebahagiaan sejati adalah rumah bapa, keluarga bapa, pribadi bapa.

Ketiga, tentang bagaimana sikap seharusnya terhadap orang berdosa yang bertobat? Dalam “Kisah Anak yang Hilang”, pernyataan si sulung kepada bapa, “Telah bertahun-tahun, aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia”, menunjukkan protesnya pada sikap bapa. Dari pernyataan itu, si sulung menghendaki agar si bungsu diperlakukan sesuai dengan apa yang telah dia perbuat. Si bungsu seharusnya dihukum karena dia telah berdosa bukan justru sebaliknya si bungsu malah dikasihi dengan tidak lagi memperhitungkan dosa yang telah dia perbuat. Sikap si sulung ini menggambarkan sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terhadap orang-orang berdosa pada zaman itu, yang bersunggut-sunggut ketika melihat Yesus dekat dan makan bersama dengan para pendosa. Bagi mereka, para pendosa harus dihukum, mereka harus dikucilkan, mereka harus ditolak, mereka harus dianggap sebagai “orang yang jauh” sehingga para pendosa tetap menganggap diri mereka “pendosa” yang tidak layak diampuni, “sekali berdosa tetap berdosa”, yang tetap tinggal dalam keadaan berdosa, yang tetap menyandang status “budak” bukan  status “anak”. Inilah sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kepada para pendosa. Sikap ini menyebabkan para pendosa terus menerus melihat Bapa sebagai Allah Yang Menghukum.

Berbeda dengan orang-orang Farisi dan Ahli-Ahli Taurat, dalam “Kisah Anak Yang Hilang”, sikap Yesus terhadap orang berdosa digambarkan dalam pribadi bapa, bapa yang setelah melihat si bungsu dari kejauhan, tergerak oleh belas kasihan, berlari dengan sekuat tenaga mendapatkan si bungsu, yang setelah mendapatkannya, merangkulnya dengan penuh kehangatan, yang setelah merangkulnya, menciumnya dengan mesra, yang setelah menciumnya, mengampuni pertobatan si bungsu, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa”. Berlari, merangkul, mencium dan mengampuni mengungkapkan belas kasih bapa. pertobatan si bungsu yang disambut dengan belas kasih bapa tersebut menyebabkan si bungu menyadari bahwa “aku sungguh dikasihi” dan “aku sungguh diampuni”.  Tidak hanya itu, belas kasih bapa yang ditunjukkan kepada si bungsu “lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya, kenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya. dan ambilah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali. Ia telah hilang dan didapat kembali”, membuat si bungsu mengalami bahwa “aku anak bapa” dan “aku bukan hamba bapa”. status si bungsu sebagai “budak” kini dipulihkan menjadi status “anak” karena belas kasih bapa. Dengan demikian, belas kasih merupakan sikap yang tepat, yang diberikan kepada orang-orang berdosa yang bertobat. dengan belas kasih, orang-orang berdosa sungguh-sungguh mengalami bahwa “aku sungguh dikasihi, aku tetap diampuni, dan aku selamanya menjadi anak”. Inilah sikap Yesus, sikap penuh belas kasih. Dia dekat dan makan bersama dengan para pendosa karena Dia ingin menampilkan Bapa sebagai Allah Yang Penuh Belas Kasih kepada para pendosa.

Dari “Kisah Anak Yang Hilang” tersebut, kita dipanggil untuk merenungkan hidup kita, hidup kita sebagai pendosa, Adakah kita selama ini masih tinggal di negeri yang jauh dari Rumah Bapa, Pribadi Bapa, dan Keluarga Bapa? Adakah kita rindu untuk kembali mengalami kebahagiaan sejati, yang itu hanya kita alami jika kita tinggal di Rumah Bapa, Hidup Bersama Bapa, Hidup Dalam Keluarga Bapa? Sebagai pendosa, hari ini kita dipanggil untuk sekali lagi mengalami Bapa Yang Penuh Belas Kasih, yang dengan belas kasih-Nya, membuat kita sungguh merasakan bahwa “aku saat ini dikasihi, aku hari ini diampuni, dan selama-lamanya aku adalah anak-Nya”.

Selain itu, sebagai orang yang mendapat Belas Kasih Bapa, kita juga dipanggil untuk bersyukur, kita dipanggil untuk meneladan Bapa, yang dengan hati terbuka memberi pengampunan kepada orang-orang berdosa yang bertobat. Saat ini kita dipanggil untuk memberi pengampunan kepada mereka yang melukai hati kita, khususnya kepada anggota keluarga kita masing-masing. Biarlah pasangan hidup Anda, anak-anak Anda, orangtua Anda, ayah-ibu Anda, dan orang-orang di sekitar Anda mengalami Belas Kasih Bapa melalui diri Anda. Semoga Belas Kasih Bapa selalu berbuah Sukacita di dalam keluarga Anda. Amin.

 

Share :