Budaya


Saur Matua: Pesta Kematian Orang Batak Toba
william - 01 May 2018, 14:06

Bagi orang Batak Toba, kematian (mate, monding) di usia yang sudah sangat tua dan  telah menikahkan semua anaknya serta memiliki cucu merupakan kematian yang paling diinginkan. Kematian seperti ini disebut sebagai mate saur matua. Dalam tradisi Batak Toba, orang yang mati akan diperlakukan khusus dalam upacara adat kematian yang diklasifikasi berdasarkan usia dan status. Untuk yang mati ketika masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan perlakuan adat (langsung dikubur tanpa peti mati), tetapi bila mati ketika masih bayi (mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate bulung), dan mati saat dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), mendapat perlakuan adat: mayatnya ditutupi ulos sebelum dikuburkan. Ulos untuk mate poso-poso dari orang tua, sedangkan mate dakdanak dan mate bulung dari tulang (saudara laki-laki ibu) si orang mati. Upacara adat kematian makin sarat mendapat diperlakukan adat apabila telah berumah tangga namun belum mempunyai anak (mate di paralang-alangan / mate punu), telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil (mate mangkar), telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang kawin, namun belum bercucu (mate hatungganeon), telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah (mate sari matua), dan telah bercucu tidak harus dari semua anak-anaknya (mate saur matua). Selain itu, masih ada tingkat kematian tertinggi diatasnya, yaitu mate saur matua bulung (mati ketika semua anaknya telah berumah tangga, dan telah memberikan tidak hanya cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki dan dari anaknya perempuan), namun keduanya dianggap sama sebagai konsep kematian ideal (meninggal dengan tidak memiliki tanggungan anak lagi).

Ketika seseorang mati saur matua, maka keluarga sesegera mungkin bermusyawarah (martonggo raja) membahas persiapan upacara saur matua. Pihak-pihak keluarga terdiri dari unsur dalihan natolu, sebuah sistem hubungan sosial masyarakat yang terdiri dari tiga kelompok kekerabatan, yaitu hula-hula (kelompok keluarga pihak istri), dongan tubu (teman atau saudara semarga), dan boru (kelompok keluarga pihak suami dari masing-masing saudara perempuan kita, keluarga perempuan pihak ayah). Martonggo raja dilaksanakan oleh seluruh pihak di halaman luar rumah duka pada sore hari sampai selesai. Masyarakat setempat (dongan sahuta) hadir sebagai pendengar rapat (biasanya akan turut membantu dalam penyelenggaraan upacara) yang membahas waktu pelaksanaan upacara, lokasi pemakaman, acara adat sesudah penguburan, dan keperluan teknis upacara seperti pengadaan peti mati, penyewaan gondang beserta pemainnya, hidangan bagi yang menghadiri upacara, dan sebagainya. Idealnya, pemakaman diadakan ketika seluruh pihak orang yang mati saur matua telah hadir, namun karena banyak masyarakat Batak merantau, sering pelaksanaan upacara berhari-hari ditunda penguburannya demi menunggu kedatangan anak-anaknya. Hal seperti itu dapat dijadikan pertimbangan untuk memutuskan pelaksanaan puncak upacara saur matua. Pada hari yang sudah ditentukan, upacara saur matua dilaksanakan pada siang hari, di ruangan terbuka yang cukup luas (idealnya di halaman rumah duka).

Jenazah yang dimasukkan dalam peti diletakkan di tengah seluruh anak dan cucu dengan posisi peti bagian kaki mengarah ke pintu luar rumah. Di sebelah kanan peti jenazah adalah anak-anak lelaki dengan para istri dan anaknya masing-masing, dan di sebelah kiri adalah anak-anak perempuan dengan para suami dan anaknya masing-masing. Rangkaian saur matua terlaksana ketika seluruh pelayat dari kalangan masyarakat adat telah datang (idealnya sebelum makan siang). Jamuan makan merupakan kesempatan penyelenggara upacara menyediakan hidangan berupa nasi dengan lauk berupa hewan kurban (sapi, babi, atau kambing) yang sebelumnya disiapkan para parhobas (orang yang ditugaskan memasak makanan saat pesta). Setelah jamuan, dilakukan pembagian jambar (hak bagian dari milik bersama) yang terdiri dari juhut (daging), hepeng (uang), tortor (tari), dan hata (berbicara) kepada masing-masing dalihan natolu  sesuai ketentuan. Urutan pembagian jambar diawali dengan pembagian jambar juhut. Daging yang sudah dipotong dibagi dalam keadaan mentah dengan urutan: kepala (ulu) untuk tetua adat, leher (rungkung atau tanggalan) untuk pihak boru, paha dan kaki (soit) untuk dongan sabutuha, rusuk (somba-somba) untuk hula-hula, dan bagian belakang (ihur-ihur) diberikan untuk hasuhuton. Adapun dongan sahuta (teman sekampung), pariban (kakak dan adik istri kita) dan ale-ale (kawan karib), dihitung sama sebagai pihak dongan sabutuha.

Selepas pembagian jambar juhut, ritual dilanjutkan dengan jambar hata, di mana masing-masing pihak menghibur anak-anak almarhum. Urutannya dimulai dari hula-hula, dongan sahuta, boru-bere, dan terakhir dongan sabutuha. Tiap pergantian kata diselingi jambar tortor yang diiringi gondang sabangunan (alat musik tradisional, terdiri dari ogung, hesek , taganing, odap, gondang, sarune) dan ritual menyelimutkan ulos ragi idup ke jenazah. Selain itu, bona tulang (pihak saudara laki-laki almarhum) dan bona niari (pihak saudara ibu almarhum) juga memberikan ulos sebagai tanda kasih sayang. Kemudian, pihak hula-hula menyematkan ulos kepada pihak boru dan hela (menantu) sebagai simbol pasu-pasu (berkat) dan memberikan ulos sibolang sebagai ulos sampetua kepada istri/suami yang ditinggalkan. Apabila almarhum lebih dulu ditinggalkan istri/suaminya, ulos tidak perlu diberikan. Kemudian, hula-hula memberikan ulos panggabei pada semua keturunan dengan menyampirkan ulos secara bergantian di bahu masing-masing anak laki-laki tertua sampai yang paling bungsu (terakhir diberikan kembali ke anak lelaki tertua disertai berkat). Kemudian, wanita dari rombongan tulang akan manortor sambil menjunjung boras sipiritondi (beras tepung tawar yang bermakna pemberian berkat) untuk diserahkan pada pihak hasuhuton, sedangkan undangan lain (dongan sabutuhaboruberepariban, teman-teman dari pihak hasuhuton) secara bergilir diundang untuk manortor, namun mereka tidak melakukan ritus pemberian pasu-pasu. Acara selanjutnya adalah ungkapan balasan pihak hasuhuton pada pihak yang memberikan jambar hata dan jambar tor-tor tadi. Salah seorang suhut mengucapkan jambar hata sebagai balasan sekaligus berterima kasih pada semua pihak yang membantu terlaksananya upacara dengan diselingi manortor sambil menghampiri tiap pihak yang menghadiri upacara tersebut sebagai tanda penghormatan sekaligus meminta doa restu. Setelah semua ritus selesai, upacara adat diakhiri dengan acara keagamaan. Ibadah bisa dilakukan di tempat itu juga, atau ketika jenazah sampai di kuburan. Sepulang dari pekuburan, dilakukan ritual adat ungkap hombung (ritus memberikan sebagian harta yang ditinggalkan kepada pihak hula-hula).

Masyarakat Batak pra-Kristen percaya bahwa kematian merupakan masa transisi kehidupan dari alam nyata menuju kehidupan alam orang mati. Mereka percaya orang yang mati hanya raga, sedangkan jiwanya terus menempuh perjalanan ke alam lain. Campur tangan orang yang masih hidup dibutuhkan dalam membantu orang mati saat terjadinya perpindahan alam kehidupan. Konsep kepercayaan ini memunculkan pengekspresian tingkah laku orang yang ditinggalkan si mati saat hendak mengantarkan si mati ke alam lain yang berkembang menjadi sebuah upacara kematian. Setelah lama dikubur, keluarga yang ditinggalkan masih perlu mengekspresikan konsep kepercayaannya itu lagi. Konsep kepercayaan awal dari hanya untuk mengantarkan si mati ke alam barunya, berkembang menjadi keinginan untuk tetap berinteraksi dengannya melalui ritual pemanggilan, penghormatan, hingga pada akhirnya pemujaan. Terbukti, masyarakat Batak masih mengekspresikannya dalam sebuah upacara penguburan sekunder mangongkal holi. Istilah sekunder dipakai karena sebelumnya telah dilakukan upacara penguburan (primer) pada saat kematiannya. Oleh karena itu, ketika diupacarakan lagi melalui penggalian tulang-belulang si mati dari kubur primer untuk dikuburkan kembali ke dalam kubur sekunder, dapatlah disebut sebagai upacara penguburan sekunder. Pemujaan hanya dilakukan bagi arwah leluhur yang dianggap memiliki kuasa-pengaruh yang istimewa berdasarkan status mereka sewaktu hidup. Maka, orang yang mati saur matua umumnya akan disembah dalam upacara saur matua, yang dipercaya akan menambah kekuatan sahala leluhur di alam lain, sedangkan keturunannya mendapatkan berkat sahala dari orang tua yang mati tersebut.

 

Share :