Filsafat


Eksistensi Manusia Menurut Soren Kierkegaard
Brian Laluyan - 11 Apr 2018, 20:21

Manusia mempunyai kehendak untuk menjalankan hidupnya. Namun apakah kehendak itu benar-benar muncul dari dirinya sendiri? Kierkegaard, seorang filsuf eksistensial, menjawab pertanyaan tersebut dari berbagai tulisannya. Ia adalah seorang Kristen yang menjelaskan bagaimana manusia menemukan eksistensinya dalam kehidupan beriman. Kierkegaard memakai 3 tahap perkembangan eksistensi manusia untuk menjelaskan pemikirannya.

 

Tahap Estetis

            Kierkegaard memulai tahap eksistensinya dengan tahap estetis. Pada tahap ini manusia selalu ingin mengikuti kesengangan-kesenangannya. Ia hidup dari berbagai keinginan yang dimilikinya. Yang dipikirkannya hanya tentang kepenuhan keinginannya. Hidup baginya merupakan situasi tanpa tanggung jawab dan intervensi sama sekali dari dunia luar. Mereka menolak realitas yang mengatasi dirinya. Yang terpenting bagi dirinya adalah tentang secepat mungkin menuju pada kesenangan-kesenangan jangka pendeknya. Oleh karena itu, manusia pada tahap ini sangat emosional dan mudah mendapat rangsangan dari luar. Eksistensi manusia pada tahap ini hanya sebatas ketika ia telah berhasil memenuhi kesenangannya.

            Pada tahap estetis manusia menolak prinsip etika universal. Baginya yang terpenting hanyalah dirinya sendiri. Dunia hanya berguna bila dapat menjadi sarana pemenuhan segala keinginan dan kesenangannya. Sikap ini membuatnya tidak berani membuat suatu komitmen atau lebih tepatnya tidak mau berkomitmen. Kierkegaard menggambarkan manusia yang berada pada tahap ini, sebagai seorang lelaki yang hanya memandang relasi dengan wanita dengan rendahan. Wanita hanya sebagai sarana eksploitasi pemenuhan nafsunya. Mengejar wanita hanya untuk memenuhi kebutuhan ekspresi maskulin. Tidak ada cinta dalam hubungan laki-laki dan perempuan di sini.

            Kesenangan di dunia bersifat fana. Para estetikus hanya bersemangat ketika mereka mengejar kesenangan mereka. Setelah kesenangan yang mereka kejar telah tercapai, tidak ada lagi kesenangan di sana. Mereka akan cepat meninggalkan sesuatu dan mencari kesenangan yang lain. estetikus hanya tertarik pada hasrat mengejar kesenangan. Setelah tercapai, mereka akan berpindah kepada kesenangan selanjutnya. Oleh karena itu, manusia pada tahap estetis tidak pernah puas akan keadaan dan cepat mudah bosan.

            Tahap estetis akan diakhiri dengan keputusasaan. Para estetikus kemudian akan sadar bahwa mereka tidak akan pernah benar-benar memuaskan diri mereka. Sekeras apapun mereka mengusahakannya, mereka tidak akan mendapatkan situasi kepuasan yang tertinggi. Mereka beranggapan bahwa bila mereka terus menerus memenuhi keinginannya, tingkat kesenangan mereka akan bertambah. Namun sebaliknya, mereka akan lebih sulit untuk merasa senang. Pengalaman mengalami kesenangan  yang pernah mereka alami tidak dapat lagi memberi kesenangan kepada mereka. Sehingga, untuk menjadi senang, mereka membutuhkan sesuatu yang lebih lagi.

Pada situasi ini, keputusasaan akan datang. Para estetikus tidak dapat mengalami kesenangan yang lebih tinggi karena mereka tidak memiliki sepenuhnya diri mereka. Mereka hanya hidup dari apa yang menjadi rangsangan dari luar. Mereka mudah terpengaruh oleh pengalaman indrawi sehingga sulit mengolah diri sendiri. Perasaan yang memenuhi diri mereka adalah kegelisahan. Mereka sangat menginginkan sesuatu, namun tidak mendapatkannya. Pengalaman selalu mendapat apa yang mereka inginkan akhirnya menjadi candu bagi mereka. Tahap ini ditutup dengan pilihan untuk membuka diri atau tetap menutup diri. Dengan membuka diri estetikus dapat maju ke tahap berikutnya dari perkembangan diri.

           

Tahap Etis

            Pada tahap etis, manusia telah dapat memilih. Ia tidak lagi terbelenggu akan keinginan-keinginan yang begitu melekat pada dirinya. Manusia mulai membentuk identitas dirinya, terutama identitas di tengah komunitas dan masyarakatnya. Identitas itu ia bentuk dengan mulai mengikuti etika universal. Ia mulai memahami pentingnya membentuk diri sesuai dengan masyarakatnya. Ia tidak hanya mematuhi peraturan demi orang lain, melainkan telah memahami betul mengapa ia harus menjalankan peraturan-peraturan yang ada di masyarakat.

            Manusia pada tahap etis dapat menaruh pilihan untuk terikat pada nilai moral dan etika universal. Ia tidak hidup bagi dirinya sendiri, namun bagi keselarasan dunia. Cinta menjadi sesuatu yang lebih luhur, tidak sekadar relasi timbal balik. Manusia memutuskan menikah karena didasarkan oleh prinsip hidup kesetiaan pada pasangannya. Kesetiaan merupakan salah satu nilai moral. Manusia pada tahap ini akan selalu ingin memperjuangkan nilai moral.

            Kierkegaard mencontohkan tokoh-tokoh pada tahap ini berdasarkan kisah-kisah ‘The Tragic Hero’ atau pahlawan tragis. Salah satu contoh pahlawan tragis itu adalah Agamemnon. Ia adalah seorang komandan dari armada Yunani yang sedang mengepung Troya. Saat berada di tengah laut, tiba-tiba angin berhenti, sehingga kapal tidak dapat berlayar. Oleh karena itu, seisi kapal membuang undian untuk menentukan siapa yang membawa kesialan ini. Undian tersebut jatuh kepada Iphigenia, anak Agamemnon. Sebagai komandan, Agamemnon menjaga kewajibannya dengan mengorbankan anaknya sendiri[1].

            Pengorbanan yang dilakukan oleh Agamemnon merupakan suatu perbuatan yang menggambarkan perkembangan manusia di tahap etis. Etika dan nilai moral menjadi nilai yang tertinggi untuk diperjuangkan. Hasrat dan keinginan diri sendiri tidak ada nilainya lagi. Yang terpenting adalah keberhasilan suatu nilai moral. Dalam kasus ini, Agamemnon tidak hanya mengorbankan anaknya, namun terlebih lagi, ia mengorbankan dirinya. Ayah mana yang mau melihat anaknya sendiri dibunuh? Namun, demi etika universal, Agamemnon bersedia melakukannya.

But ethics has no coincidence and no old servant at its disposal. The esthetic idea contradicts itself as soon as it is to be implemented in actuality. For this reason ethics demands disclosure. The tragic hero demonstrates his ethical courage in that he himself, not prey to any esthetic illusion, announces Iphigenia's fate to her[2].

 

Pada tahap etis, manusia hanya membawa penyesuaian pada komunitas atau masyarakat, bukan kesesuaian dengan Allah. Allah menjadi tidak relevan ketika seseorang menjalani kehidupan dengan sangat taat pada aturan moral. Ia akan dipuji dalam pengertian yang terbatas, karena hanya karena apa yang ia buat.

the opposite of sin is faith, as it says in Romans 14:23: "whatever does not proceed from faith is sin." And this is one of the most decisive definitions for all Christianity—that the opposite of sin is not virtue but faith[3].

 

Tulisan di atas memperlihatkan pembedaan Kierkegaard antara berbuat kebaikan dan beriman. Lawan dari dosa bukanlah berbuat kebaikan, melainkan beriman. Dosa tidak akan dapat diampuni bila hanya melakukan kebaikan. Orang hanya dapat diampuni bila ia dapat menyerahkan dirinya kepada Allah.

Tahap etis belum mengenal siapa itu Allah. perbuatan baik yang ia lakukan hanya sebatas melakukan etika universal. Contoh pahlawan tragis lain yang disebutkan oleh Kierkegaard adalah Yefta[4]. Ia adalah seorang hakim Israel yang kisahnya terdapat dalam Kitab Suci. Bangsa Israel menganggap ia sebagai pahlawan karena berhasil berperang bersama bangsanya. Namun, sebenarnya ia hanya menjalankan tugas dari pemimpin-pemimpin Israel saat itu. Ia bukan seorang yang beriman penuh pada kehendak Allah. walaupun akhirnya ia mengorbankan anaknya karena nazar yang ia buat, ia hanya melakukannya karena itu merupakan suatu kewajiban moral.

Tahap ini juga akan diakhiri dengan keputusasaan. Etika dan moral tidak akan menjadi sempurna bila tidak mempunyai suatu tujuan. Penganut tahap etis ini lagi-lagi hanya berorientasi pada apa yang ada di dunia. Lalu apa yang akan ia capai setelah ia mati? Kierkegaard mengkritik etika keutamaan dari Aristoteles. Ia mengatakan bahwa yang terpenting nantinya bukan menjalankan etika universal dengan sepenuh hati, melainkan dengan membangun relasi dengan Allah. Keputusasaan dalam tahap ini dialam karena akhirnya manusia tidak mempunyai tujuan.

 

Tahap Religius

            Pada tahap Religius, manusia telah dapat menghayati apa yang ada di luar realitas diri dan dunianya. Ia telah sampai pada kesadaran untuk membangun relasi yang khusus dengan Allah. Tujuan yang dipusatkan pada dunia hanya bersifat sementara. Oleh karena itu, manusia harus dapat mencari tujuan yang abadi, yaitu Allah. dalam menjalin relasi dengan Allah, manusia harus dapat menaruh pertimbangan pribadinya di tempat yang kedua untuk memberi kehendak Allah di tempat yang pertama. Itu dilakukan karena apa saja yang ia perjuangkan hanya demi relasinya yang khusus dengan Allah.

Kierkegaard memisahkan tatanan yang mapan dan yang ideal. Tatanan yang mapan adalah etika dan yang ideal adalah iman. Etika adalah sesuatu yang sangat masuk akal bagi kehidupan manusia. Etika menawarkan ukuran akan suatu kebenaran. Tatanan yang mapan menunjukkan suatu kebenaran yang bersifat rasional. Tetapi iman membawa manusia kepada Allah. Dengan menuju pada tatanan yang ideal, manusia menuju pada Allah yang tidak hanya memiliki kebenaran, namun lebih pada kesempurnaan. Pemikiran manusia dapat terbatas, namun keabadian Allah dapat mengatasi tujuan hidup manusia.

Dalam hal ini, Kierkegaard memberi contoh dengan pengorbanan yang dilakukan abraham terhadap Ishak[5]. Abraham telah menanti Ishak hampir sepanjang umurnya. Karena itu, Ishak menjadi anak yang sangat dikasihinya. Namun, karena relasinya yang begitu erat dengan Allah, ia berani mengambil keputusan yang benar-benar sulit baginya. Ia menyetujui kehendak Tuhan yang membuat Ishak harus mati di tangannya sendiri. Apa yang dilakukannya hanya demi relasinya dengan Allah.

Menjadi seorang yang beriman tidaklah cukup dengan hanya memperhatikan nilai moral yang yang ditawarkan oleh suatu institusi keagamaan. Kierkegaard menganggap manusia yang hanya melakukan kewajiban moral untuk dapat masuk surga sama saja melecehkan Allah[6]. Yang lebih penting dari segala perbuatan baik adalah relasi dengan Allah. Hal itu yang yang membuat manusia pantas masuk ke dalam surga.

 

Eksistensi

Keputusasaan yang timbul dari tahap estetis dan etis akan menyadarkan manusia untuk mengejar hal yang melebihi yang temporal. Kesadaran ini membawa manusia untuk melihat bahwa tidak ada gunanya mengejar hal yang fana dan temporal atau sesuatu yang dapat hilang. Pada tahap estetis, kesenangan-kesenangan yang dikejar oleh individu hanya bersifat jangka pendek. Ketika ia telah mendapatkan kesenangan tersebut, ia tidak tahu lagi akan berbuat apa.

Etika menjadi nilai yang diperjuangkan di tahap etis. Namun, tahap etis hanya bergerak sebatas pikiran manusia yang terbatas, tentang bagaimana ia harus hidup di dunia. Ia akan merasakan keputusasaan karena tidak mengerti identitas hidupnya di dunia. Orientasi hidup akhirnya hanya sebatas benar atau salah. Tahap etis tetap tidak dapat membuat manusia sampai pada eksistensi manusia itu sendiri.

Saat mencapai tahap religius, manusia semakin menyadari identitas dirinya karena mempunyai relasi yang intim dengan Allah. Manusia tidak hanya berbuat baik demi etika, tetapi demi relasinya dengan Allah. Ketika manusia sadar akan relasinya dengan Allah, manusia akan enggan melakukan sesuatu yang melawan perintah-Nya. Kierkegaard melihat bahwa dosalah yang membawa manusia sampai kepada Allah.

Manusia akan semakin dapat dekat dengan Allah ketika ia sadar akan segala dosa yang ia buat. Ia sadar bahwa kesalahan yang ia buat akan merusak relasinya dengan Allah. Karena relasi inilah, manusia semakin dapat sadar akan dosanya. Bila ia tidak mempunyai relasi yang khusus dengan Allah, ia tidak akan merasa bersalah ketika berbuat dosa. Atas pengalaman akan dosa ini, manusia akan berusaha untuk menyerahkan diri pada Allah.

Kierkegaard tidak serta merta langsung mengkaitkan pengalaman akan dosa ini dengan rahmat. Ia lebih melakukan pendekatan pada bagaimana manusia yang merasakan pengalaman akan kedosaan untuk semakin menyadari eksistensinya. Eksistensi manusia akhirnya terwujud karena relasinya dengan Allah. Manusia akan sampai pada eksistensinya ketika ia berhasil menjalin relasi dengan yang mengatasi dirinya.

Iman adalah syarat pengampunan dosa. Karena beriman pada Allah, manusia dapat bertobat. Pengampunan menjadi satu-satunya jalan untuk kembali dari dosa. Pengampunan merupakan suatu keajaiban. Allah tidak akan lagi memperhitungkan kesalahan yang telah diperbuat oleh manusia. Perbuatan baik tidak setara dengan pengampunan. Pengampunan mengambil tempat yang tertinggi karena merupakan aspek terjalinnya relasi dengan Allah. Bagi Kierkegaard, eksistensi akhirnya dapat dicapai oleh manusia ketika manusia sadar akan Allah. Keterbukaan manusia terhadap yang ilahi sangat penting bagi tercapainya eksistensi manusia.

 

 

Daftar Pustaka

Kierkegaard,

1983    Fear and Trembling, diterjemahkan dari Frygt og bœ ven and of Gjentagelsen, oleh Howard V. Hong and Edna H. Hong, Princeton University Press, New Jersey.

Kierkegaard,

1980    The Sickness Unto Death, diterjemahkan oleh Howard V. Hong and Edna H. Hong, Princeton University Press, New Jersey.

Obinyan, V. E.,

2014    “Nature of human existence in Kierkegaard’s ethical philosophy: A step towards self-valuation and transformation in our contemporary world”, International Journal of Philosophy, vol. 2, no. 1, 1-14.

Peter  Vardy,

2001    Kierkegaard, diterjemahkan oleh Hardono Hadi, Kanisius, Yogyakarta.

 

 

[1] Kierkegaard, Fear and Trembling, diterjemahkan dari Frygt og bœ ven and of Gjentagelsen, oleh Howard V. Hong and Edna H. Hong, Princeton University Press, New Jersey 1983, 58.

[2] Kierkegaard, Fear and Trembling, 87.

[3] Kierkegaard, The Sickness Unto Death, diterjemahkan oleh Howard V. Hong and Edna H. Hong, Princeton University Press, New Jersey 1980, 82.

[4] Kierkegaard, Fear and Trembling, 58.

[5] Kierkegaard, Fear and Trembling, 30.

[6] Peter  Vardy, Kierkegaard, diterjemahkan oleh Hardono Hadi, Kanisius, Yogyakarta 2001, 71.

Share :