Teologi


Benarkah Allah Pernah Hendak Membunuh Musa?
Leo Purnanto - 06 Dec 2017, 20:52

Kitab Keluaran 4:24-26 menjadi salah satu bagian yang sulit untuk dipahami oleh umat Kristiani. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa Tuhan hendak membunuh Musa yang dipilih-Nya untuk membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir. Di dalam cerita pembaca juga semakin dibingungkan dengan tindakan Zipora yang menyelamatkan Musa dengan cara menyunat anaknya dan mengatakan pengantin darah.

 Siapakah Yang Akan Dibunuh Oleh Allah?

“Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: "Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku." Lalu TUHAN membiarkan Musa. "Pengantin darah," kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu.” (Kel 4:24-26)

Ayat 24 secara eksplisit menyatakan bahwa Tuhan hendak membunuh Musa. Ayat ini sangat tidak masuk akal mengingat bahwa di ayat sebelumnya yaitu Kel 3:1-4:17 ia mendapat tugas perutusan untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Jikalau Tuhan hendak membunuh Musa yang dipilih-Nya tentunya harus ada alasan yang kuat berkaitan dengan niat tersebut. Sedangkan dalam Kel 4:24-26 penulis kisah sama sekali tidak menceritakan alasan apapun mengapa Tuhan hendak membunuh Musa.

Secara sekilas ayat itu mudah dipahami bahwa yang akan dibunuh oleh Tuhan adalah Musa. Tetapi, bila mempertimbangkan beberapa terjemahan Alkitab alkitab yang lain, pembaca akan menemui kesulitan siapa sebenarnya yang akan dibunuh oleh Allah.

And it came to pass by the way in the inn, that the LORD met him, and sought to kill him. Then Zipporah took a sharp stone, and cut off the foreskin of her son, and cast it at his feet, and said, Surely a bloody husband art thou to me. So he let him go: then she said, A bloody husband thou art, because of the circumcision. (KJV)

One night while Moses was in camp, the LORD was about to kill him. But Zipporah circumcised her son with a flint knife. She touched his legs with the skin she had cut off and said, "My dear son, this blood will protect you." So the LORD did not harm Moses. Then Zipporah said, "Yes, my dear, you are safe because of this circumcision." (Contemporary English Version)    

Terjemahan versi King James Version (KJV) memiliki kesamaan dengan terjemahan bahasa Indonesia, yaitu hanya Musa yang akan dibunuh oleh Allah. Sedangkan dalam versi Contemporary English Version kata-kata Zipora …"My dear son, this blood will protect you" mengisyaratkan bahwa yang hendak dibunuh ternyata bukan hanya Musa, melainkan juga anaknya. Kita tentu dapat bertanya lebih lanjut, mengapa anak laki-laki Musa harus dibunuh?  

Seorang bayi tentu tidak dapat melakukan suatu perbuatan dosa yang layak mendapatkan hukuman mati. Seandainya bayi itu harus mendapat hukuman mati, kesalahan yang diperbuatnya pasti berhubungan dengan kesalahan orang tuanya. Sang bayi dapat diletakkan pada efek kesalahan yang diperbuat oleh Musa. Kemungkinan bayi tidak berbuat dosa membawa konsekuensi pemahaman bahwa Musa-lah yang telah berbuat dosa sehingga ia dan anaknya hendak dibunuh oleh Allah.

Mengapa Tuhan Hendak Membunuh Musa?

Embry berpendapat bahwa Musa mendapatkan situasi berbahaya itu (Allah hendak membunuhnya) karena perbuatan yang telah dilakukannya di masa lampau dan apa yang telah dilalaikannya untuk dilakukan (B. Embry 2010:178). B. Embry menawarkan beberapa kemungkinan yaitu Musa telah membunuh orang Mesir, Musa sendiri tidak disunat, atau ia lalai tidak menyunat Gersom, anaknya[1]. Pembahasan selanjutnya akan berpangkal dari tiga kemungkinan alasan ini.

Alasan pertama: Sebagai pembalasan terhadap tindakan pembunuhan yang dilakukan Musa terhadap orang Mesir

Alasan pertama berhubungan dengan pembalasan Allah terhadap pembunuhan orang Mesir yang dilakukan oleh Musa. Dengan didukung tidak adanya perbuatan dosa lain yang dilakukan Musa di ayat-ayat sebelumnya, alasan ini bisa menjadi alternatif jawaban terhadap permasalahan tersebut. Menurut Propp, dugaan ini semakin kuat karena situasi yang dihadapi Musa di Midian mengibaratkan orang yang sedang mencari perlindungan setelah melakukan pembunuhan[2].

Pencarian tempat perlindungan dimungkinkan bagi orang yang telah melakukan pembunuhan menurut hukum Israel (Kel 21:12; Bil 35:11). Hanya saja, tempat perlindungan “yang ditunjukkan oleh Allah” itu diperuntukkan bagi orang yang tidak dengan sengaja melakukan pembunuhan. Sedangkan orang yang dengan sengaja melakukan pembunuhan pasti akan mendapatkan hukuman mati (Kel 21:12). Apabila aturan hukum ini diterapkan kepada Musa yang pergi ke Midian untuk berlindung, tentu akan sulit dikatakan bahwa rencana Tuhan itu adalah suatu pembalasan atas dosa pembunuhan yang dilakukan oleh Musa. Hanya orang yang tidak sengaja melakukan pembunuhan saja yang diperbolehkan pergi ke kota perlindungan (Bil 35:16-29).

Persoalan yang muncul adalah apakah pembunuhan yang dilakukan Musa itu merupakan suatu tindakan dengan motif tidak sengaja sehingga ia mendapat tempat pelarian di Midian?

Jika kita melihat kisah pembunuhan yang dilakukan Musa (Kel 2:11-12), rasanya sulit mengatakan bahwa kasus itu sebagai tindakan spontanitas Musa sebab sebelum melakukan pembunuhan, terlebih dahulu Musa melihat sekitar untuk memastikan tindakan pembunuhan yang akan dilakukannya tidak dilihat oleh orang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa Musa melakukan pembunuhan itu secara sengaja dan terencana.

Motif pembunuhan yang disengaja itu menjadi tidak tepat bila harus ditempatkan dalam konteks kota perlindungan. Bagaimana mungkin orang yang dengan sengaja membunuh mendapatkan perlindungan? Orang yang membunuh secara sengaja harus dihukum mati (Bil 35:17-21). Musa telah membunuh dengan sengaja oleh karena itu ia harus mendapatkan hukuman atas dosanya. Atas dasar hal ini, Propp menilai bahwa alasan Yahwe mengutus Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan Israel adalah dalam rangka menghukum Musa atas dosa pembunuhan yang telah ia perbuat[3].

Sampai pada tahap ini, alasan Allah hendak membunuh Musa dapat dimengerti sebagai akibat dari dosa pembunuhan yang dilakukannya. Akan tetapi, hukuman tersebut menjadi tidak adil bila dilihat dalam konteks perutusan untuk membebaskan bangsa Israel. Di satu sisi, Musa adalah terpidana mati. Sedangkan di sisi lain, Musa ditugaskan membebaskan Israel. Dengan kata lain, Musa adalah boneka yang dimanfaatkan Allah dan setelah semua rencana selesai boneka itu akan segera dibinasakan.

Ketidakadilan itu menjadi semakin nyata jika dihadapkan dengan perkataan Tuhan sendiri sewaktu berbicara dengan Musa di gunung Horeb bahwa Ia akan menyertai Musa dalam menjalankan tugas perutusan (Kel 3:12). Konsep dualisme perutusan itu justru memperlihatkan bahwa Tuhan adalah penipu. Bagaimana mungkin Tuhan yang adil mengatakan akan menyertai seseorang sementara dalam perjalanan waktu orang itu disesatkan-Nya? Terlebih lagi, pembunuhan yang dilakukan Musa walaupun ada motif sengaja, sebenarnya didasarkan pada nilai pembelaan terhadap orang yang tertindas yang berada di dalam bahaya maut. Ia telah menyelamatkan nyawa orang Ibrani dari tangan orang Mesir.

Dalam hukum Israel pada masa Keluaran, pembunuhan masih bisa mendapatkan keringanan hukuman asalkan tidak sengaja dilakukan. Hukum tentang pembunuhan itu secara tidak langsung dapat dikatakan masih bisa lunak dalam penerapannya dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Jika hukum tentang pembunuhan masih bisa lunak, berarti kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Musa belum bisa dikatakan sebagai alasan utama. Kasus pembunuhan tetap bisa menjadi alasan yang masuk akal walaupun tidak ditempatkan pada alasan utama.

 Alasan kedua: Musa belum disunat

Berbeda dengan kasus pembunuhan, sunat menjadi bagian yang penting dalam tradisi Yahudi. Sunat menjadi identitas orang Yahudi. Kitab Kejadian dengan tegas menyatakan bahwa semua orang laki-laki Yahudi harus disunat. Setiap orang yang tidak disunat harus dibinasakan (Kej 17:14). Bahkan karena begitu pentingnya aturan ini, bayi laki-laki harus disunat pada umur delapan hari (Kej 17:12).

Pada alasan yang kedua ini, Musa ditempatkan pada struktur hukum sunat orang Israel. Dasarnya adalah perkawinannya dengan orang Midian yang mempraktikan sunat sebelum melangsungkan upacara pernikahan[4]. Dalam perikop Kel 4:24-26, tertulis adanya ritual sunat dan kemungkinan bisa merujuk kepada Musa.

Akan tetapi, alas an bahwa Musa yang belum disunat ternyata tidak memiliki bukti yang kuat. Sebagai dasar pertimbangan, Orang Israel harus disunat pada usia delapan hari (Kej 17:12). Ia adalah orang Israel dari keturunan Lewi dan telah tinggal bersama keluarganya selama tiga bulan dalam persembunyian (Kel 2:2) sebelum diletakkan di tepi sungai Nil (Kel 2:3)., Kemungkinan besar ia telah disunat secara diam-diam dalam persembunyian saat berada bersama keluarganya selama tiga bulan itu. Walaupun akhirnya ia tinggal dalam istana Mesir, ia tetap memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ia sudah disunat sebab orang Mesir juga melakukan praktik sunat[5].

Kepergiannya ke Midian dan tindakannya menikahi anak perempuan imam Yitro ternyata juga tidak cukup kuat untuk mengawal alasan kedua ini. Apabila tradisi itu dipaksakan pada Musa, kisah ini akan mengalami ketidakcocokan sebab yang disunat ternyata bukan Musa melainkan anaknya. Di Midian ia tidak disunat oleh Zipora karena kemungkinan besar ia sudah disunat.

Dari ketiga alasan yang ditawarkan Embry, alasan kedua ini menjadi bagian yang sulit untuk diterima karena tidak secara eksplisit maupun implisit tertulis dalam kitab suci. Oleh karena itu, saya lebih cenderung tidak menerima alasan ini sebagai dasar untuk memahami mengapa Allah hendak membunuh Musa.

 Alasan ketiga: Musa lalai untuk menyunat anak laki-lakinya

            Sunat masih menjadi hukum yang wajib ditaati. Alasan yang ketiga ini mengambil posisi anak laki-laki Musa yang belum disunat sebagai dasar untuk menyalahkan Musa. Dengan tidak menyunatnya, berarti Musa telah melanggar perjanjian antara Allah dengan Abraham. Mengacu pada perjanjian itu (Kej 17:14), orang yang tidak disunat harus dibunuh. Namun, karena anak laki-laki itu masih bayi, tanggung jawab hidupnya ada pada orang tuanya yaitu Musa.

            Dalam Talmud Yerushalmi sebagaimana dikutip oleh Chistopher B. Hays, alasan Musa tidak menyunat bayinya adalah demi keselamatan bayi itu sendiri sebab seandainya ia menyunat anaknya dan  ia harus membawanya serta dalam perjalanan ke Mesir tentu akan sangat berbahaya bagi kesehatannya[6]. Pembelaan ini tetap bertentangan dengan hukum sunat. Ketentuan yang berlaku bagi orang Ibrani tentang sunat adalah wajib. Dengan demikian, pembelaan Musa seperti yang tertulis dalam Talmud Yerushalmi tetap tidak dapat dibenarkan di mata YHWH.

 Hubungan antara tindakan Zipora, pernyataan pengantin darah, dan keselamatan Musa

            Tindakan Zipora dapat dikatakan sebagai quick response rescue atas bahaya yang menimpa Musa.   Kisah penyelamatan itu diawali dengan Zipora mengambil pisau batu lalu menyunat anaknya. Setelah itu ia menyentuh kaki Musa dengan kulit khatan anaknya sambil mengatakan … engkau pengantin darah bagiku ... kepada Musa. Dan akhirnya, Allah membiarkan Musa hidup.

            Kaki Musa sebenarnya adalah bentuk majas eufimisme untuk menunjuk penis Musa[7]. Penis menunjuk pada kuasa laki-laki. Kita dapat memahami ini misalnya dalam kisah Abraham yang mengambil sumpah hambanya dengan cara meletakkan tangan hambanya pada pangkal paha (penis) Abraham (Kej 24:9).

            Apabila kita melihat tindakan Zipora, kemungkinan besar ia mengetahui latar belakang Musa. Zipora tahu misi yang diberikan oleh Allah kepada Musa karena ia turut serta dalam perjalanan ke Mesir. Zipora juga mengetahui bahwa Musa adalah seorang terpidana mati dari sudut Allah, oleh sebab itu sebagai istri, ia berusaha menolong suaminya.

            Sebagai orang-orang Midian, ia juga mengetahui tradisi sunat sebagai bagian dari pengudusan diri (Midian adalah keturunan Abraham dan pasti mengenal tradisi sunat). Sunat dalam dunia pagan juga menjadi ritus untuk menyiapkan orang menjadi pelayan Tuhan[8]. Oleh karena itu, dapat dipahami apabila Zipora kemudian melakukan praktik sunat sebagai tindakan penebusan dosa Musa dan mempersiapkannya sebagai orang pilihan Allah. Darah anaknya yang disentuhkan ke kaki (penis) Musa menyimbolkan Zipora seolah-olah telah menyunatnya[9] dan hal ini berarti Musa dibersihkan dari dosa-dosanya.

            Di akhir tindakannya, Zipora mengatakan pengantin darah. Kata-kata Zipora ini menegaskan betapa pentingnya sunat yang ia lakukan kepada anaknya. Musa diselamatkan karena ritual sunat anak laki-lakinya seolah-olah yang disunat adalah Musa sendiri. Ia juga diikat dalam perkawinan Midian yang sah secara tradisi dengan simbolisasi sunat. Dengan kata lain, ungkapan pengantin darah hendak merujuk pada Musa yang telah menjalani ritus sunat untuk penebusan dosa, mensahkan perkawinan secara tradisi, dan mempersiapkan diri sebagai orang pilihan Allah.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, alasan Allah hendak membunuh Musa adalah karena perbuatan dosa masa lalu Musa yaitu pembunuhan orang Mesir dan kelalaiannya dalam menyunat anak laki-lakinya. Dosa Musa ini membawa konsekuensi tidak hanya kepada Musa tetapi juga anak laki-lakinya. Bahaya yang mengancam Musa itu akhirnya berhenti setelah ritual sunat yang dilakukan oleh Zipora terhadap anak Musa.

Kisah ini hendak menceritakan betapa pentingnya tradisi sunat bagi orang Israel. Sunat adalah perjanjian antara Allah dengan Abraham yang kemudian menjadi identitas bangsa Israel. Dengan melalaikan sunat, apapun motifnya, berarti menentang perjanjian itu dan hukumannya adalah dilenyapkan dari tengah-tengah Israel. Sunat juga membawa konsekuensi pentahiran atas ketidakpantasan seseorang. Hal ini pula yang terjadi pada Musa. Melalui tindakan Zipora yang menyunat anaknya dan seolah-olah menyunat Musa, ia didamaikan dengan Allah.

Dalam tradisi Timur Tengah kuno, sunat menjadi ritual khusus dalam mempersiapkan orang menjadi pelayan Allah. Musa telah dipilih Allah untuk membebaskan orang Israel. Oleh karena itu, kisah dalam perikop ini dapat dipandang sebagai bukti bahwa Musa benar-benar orang pilihan Allah.

Setelah mengetahui alasan-alasan rencana pembunuhan Musa dan tindakan penyelamatan Zipora, saya berkesimpulan bahwa penulis kisah Keluaran 4:24-26 hendak menceritakan tindakan Allah dalam menguduskan Musa sehingga ia layak menjadi orang pilihan. Bahaya-bahaya yang ditujukan kepada Musa dapat dilihat sebagai skenario Allah yang menggiring Zipora ke dalam lingkup ritual pengudusan Musa. Allah tentu tidak akan sembarangan memilih orang untuk membebaskan bangsa-Nya dari perbudakan. Allah menghendaki orang pilihan-Nya itu tidak bercela. Oleh karena itu, setelah memilih Musa, Allah menguduskannya agar layak memimpin bangsa Israel, umat kesayangan Allah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Embry B.,

“The Endangerment of Moses: Towards a New Reading of Exodus”,  dalam Vetus Testamentum, Vol. 60, 2010, 177-196, diambil dari www.jstore.org, pada tanggal 5 September 2017.

Gray J.,

“The Book of Exodus”, dalam C.M. Laymon (ed), The Interpreter’s One Volume Commentary on the Bible, William Collins Sons & Co Ltd, Glasgow, 1972.

Gurtner D.M.,

“Exodus: a commentary on the Greek text of Codex Vaticanus”, Brill, Boston, 2013.

Hays C.B.,

“Lest Ye Perish in the Way: Ritual and Kinship in Exodus 4:24-26”, dalam Hebrew Studies, Vol. 48, 2007, 39-54, diambil dari www.jstore.org, pada tanggal 5 September 2017.

Huesman J.E. S.J.,

“Exodus”, dalam R.E. Brown, SS – J.A. Fitzmyer SJ – R.E. Murphy, O Carm (eds), The Jerome Biblical Commentary, Compton Printing Ltd, London, 1969.

Lockyer Sr H.,

“Illustrated Bible Dictionary”, Thomas Nelson Publisher, New York, 1982.

Propp W.H.,

“That Bloody Bridegroom (Exodus IV 24-6)”, dalam Vetus Testamentum, Vol. 43, 1993, 495-518, diambil dari www.jstore.org, pada tanggal 5 September 2017.

 

[1] B. Embry, “The Endangerment of Moses: Towards a New Reading of Exodus”,  dalam Vetus Testamentum, Vol. 60, 2010, 178.

[2] W.H. Propp, “That Bloody Bridegroom”, dalam Vetus Testamentum, Vol. 43, 1993, 504.

[3] W.H. Propp, “That Bloody Bridegroom”, 505.

[4] John E. Huesman S.J., Exodus, dalam “The Jerome Biblical Commentary”, R.E. Brown, SS – J.A. Fitzmyer SJ – R.E. Murphy, O Carm (eds), Compton Printing Ltd, London, 1969, 50.

[5] Herbert Lockyer , “Circumcision”, dalam  Illustrated Bible Dictionary, Thomas Nelson Publisher, Newyork, 1982, 235.

[6] Christopher B. Hays, “Lest Ye Perish in the Way: Ritual and Kinship in Exodus 4:24-26”, dalam Hebrew Studies, Vol. 48, 2007, 42.

[7] D.M. Gurtner, Exodus: a Commentary on the Greek Text of Codex Vaticanus, Brill: Boston, 2013, 232.

[8] Circumcision, dalam “Illustrated Bible Dictionary”, H. Lockyer Sr (ed), 235.

[9] W.H. Propp, That Bloody Bridegroom, 506.

Share :