Teologi


Dimensi Sosiologis Doa Bapa Kami: Konsep Ratu Adil Dalam Permohonan Datanglah KerajaanMu
Leo Purnanto - 20 Nov 2017, 20:06

Dua Pemahaman Kalimat Doa “Datanglah Kerajaan-Mu”

Dalam tulisannya, Michael Joseph Brown menguraikan makna “datanglah kerajaan-Mu” pada doa Bapa kami dalam konteks relasi cinta kasih antara Allah dan manusia[1]. Menurut Michael, permintaan “datanglah kerajaan-Mu” membawa konsekuensi pertentangan antara kekuasaan manusia yang akhirnya harus kalah dengan kekuasaan Allah. Permohonan ini memiliki dua pemahaman yang berbeda yang berhasil ditangkap oleh kelompok pembaca maupun pendengar yang berbeda pula.

Kelompok pertama adalah kelompok Kristen Yahudi. Kelompok ini menangkap maksud kerajaan surga sebagai kebangkitan kembali kerajaan Daud di tengah-tengah orang Israel. Pemahaman ini muncul sebagai harapan orang Yahudi akan kebebasan. Harapan ini sangat masuk akal mengingat bahwa pada saat Yesus yang mengajarkan doa ini wilayah Palestina sedang mengalami penjajahan Romawi.

Sisi lain dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus adalah muatan aspek eskatologis. Namun, kelompok Kristen Yahudi memahami konsep eskatologis ini sebagai kedamaian, keadilan, dan kemerdekaan yang akan muncul setelah terbebas dari penjajahan. Pandangan ini berdasar pada janji Allah bahwa Ia akan datang dan memerintah umat-Nya dengan adil seperti yang tertulis dalam Mazmur 96:13, “sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.”

Penggunaan kata “kerajaan surga” dalam Injil Matius dipahami sebagai pembedaan kontras antara realitas dunia dengan surga. Pembedaan antara keadaan di dunia dengan harapan yang ada di surga itu sangat sesuai dengan apa yang dimaksud oleh kelompok pertama. Mereka merasa perlu untuk mengalami keadilan dalam kerajaan surga seperti yang diwartakan oleh Yesus. Pemahaman akan kedamaian dalam kerajaan surga menjadi sebuah kritik halus terhadap kaum penjajah Romawi sekaligus menjadi kritik terhadap orang-orang Yahudi pada umumnya.

Kelompok kedua adalah kelompok Kristen non-Yahudi. Kelompok ini memaknai kerajaan surga dalam konteks Yunani-Romawi yang sangat kental dengan konsep karakter dan wilayah. Dunia Yunani-Romawi mengenal konsep bahwa setiap tokoh ilahi memiliki kekuasaan tertentu, misalnya dewa Poseidon menguasai wilayah kelautan. Dengan demikian, kerajaan surga dipahami sebagai suatu wilayah yang penguasanya adalah Allah dan kerajaan itu diminta untuk hadir ke dunia menggantikan kerajaan yang saat ini berkuasa.

Pemahaman akan kerajaan surga dalam konteks Kristen Yunani-Romawi juga erat kaitannya dengan filsafat yang berkembang pada jaman itu. Filsafat Yunani seperti yang tertulis dalam Hymn Zeus memberikan gambaran akan kerajaan yang besar dan ideal adalah kerajaan yang mampu menghadirkan keadilan dan kedamaian. Bagi orang Kristen, kedamaian dan keadilan secara penuh dapat terwujud jika yang memerintah sebagai raja adalah Allah. Untuk itu penantian akan kehadiran Yesus yang adalah Kristus sang pembawa damai memiliki hubungan erat dengan permohonan ini.

Sebagaimana yang dipahami oleh orang Kristen bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4:8), kelompok ini yakin bahwa kesatuan jemaat dalam kerajaan surga hanya akan terwujud jika setiap orang saling mengasihi. Ide kedatangan kerajaan surga harus dipahami sebagai suatu sikap baru yang berbeda pada konteks jaman itu, yaitu orang Kristen harus saling mengasihi seperti yang telah diajarkan oleh Yesus dalam sabda bahagia yang telah mendahului ajaran doa ini. Dengan sikap ini, permintaan datanglah kerajaan-Mu lebih menunjuk pada revolusi sikap dan mental jemaat secara radikal untuk saling mengasihi demi terwujudnya kedamaian dan keadilan yang diharapkan.  

 

Konsep ratu adil dalam “Datanglah Kerajaan-Mu”

Permintaan jemaat akan hadirnya Kerajaan surga seperti yang telah dijelaskan di atas ternyata memiliki dua pandangan besar pada awal kekristenan. Perbedaan dua pandangan itu terletak pada makna Kerajaan surga bagi masing-masing situasi kelompok. Di satu sisi permohonan ini dipandang sebagai harapan akan kehadiran kuasa ilahi yang membawa pembaharuan dan di sisi lain dipandang sebagai upaya merubah sikap demi menghadirkan kedamaian di bumi.

Walaupun terdapat perbedaan di antara dua kelompok itu, ternyata pemahaman masing-masing masih menyiratkan persamaan di dalamnya. Ada dua persamaan yang dapat ditarik yaitu dimensi spiritual yaitu prasyarat kerajaan surga itu sendiri dan dimensi sosiologi yang dihadapi oleh kedua kelompok. Dimensi spiritual mengedepankan bahwa kerajaan surga yang menjadi harapan dalam doa mengandaikan adanya kasih dari Allah kepada manusia dan adanya kasih sesama manusia. Sedangkan dimensi sosiologisnya tampak dalam harapan akan kedamaian hidup yang dialami jemaat, entah harapan terbebas dari penjajahan, kehadiran kembali kerajaan Daud, atau bahkan harapan akan kehadiran mesias.

Melalui kaca mata dimensi sosiologi itu, saya akan meneruskan pembahasan permohonan “datanglah kerajaan-Mu” dengan mengaitkannya pada fenomena “ratu adil” sebagai gejala yang muncul di kalangan masyarakat yang sedang mengharapkan kedamaian.

   Ratu adil adalah seorang yang diharapkan mampu membawa kedamaian, ketenteraman, dan kemerdekaan bagi sekelompok masyarakat yang sedang mengalami tekanan hidup, entah karena penjajahan atau karena permasalahan sosial lain. Fenomena akan hadirnya ratu adil ini dapat muncul di berbagai macam wilayah (dengan nama-nama lain tetapi memiliki corak yang sama) yang sedang mengalami tekanan. Harapan ini akan memunculkan suatu gerakan-gerakan revolusi yang menjadi representasi dari wujud perjuangan menuju keadilan. Biasanya gerakan-gerakan ratu adil memiliki corak keagamaan[2]. Salah satu contoh penantian ratu adil yang ada di Jawa adalah peristiwa Jasmani (Kediri). Ia dinobatkan sebagai “ratu adil igama” yang akan membawa masyarakat kepada kemakmuran[3]. Akan tetapi harapan itu akhirnya harus kandas karena dianggap berbahaya oleh Belanda dan akhirnya ditumpas.

Gerakan-gerakan semacam itu juga marak terjadi di wilayah Palestina yang pada jaman Yesus sedang mengalami penjajahan Romawi. Contoh-contoh pemberontakan yang disebut dalam Alkitab adalah pemberontakan Teudas dan pemberontakan Yudas (Kis 5:36-37). Tekanan penjajahan telah melahirkan harapan munculnya sang ratu adil (dalam konteks Yahudi disebut mesias). Karena begitu kuatnya harapan itu, tidak mengherankan jika orang Yahudi membawa harapan itu ke dalam bahasa doa.

Dalam menuliskan injilnya, para pengarang dengan bebas menempatkan berbagai macam sumber tulisannya sesuai dengan tujuan penulisan yang akan dicapainya. Sang pengarang tentu tahu akan kebutuhan jemaat yang dilayaninya. Jika oleh pengarang, Yesus digambarkan sebagai Musa baru dan sekaligus Mesias yang dinantikan oleh orang Yahudi, bukan tidak mungkin pengarang yang sama menempatkan doa Bapa kami itu sebagai harapan akan munculnya jaman keemasan seperti yang diwartakan oleh Yesus.

Hanya yang menjadi pertanyaan adalah apakah harapan akan ratu adil masih relevan setelah Israel hancur dan tercerai-berai? Pertanyaan ini tentu mengandaikan bahwa Injil Matius ditulis sekitar tahun 70/80M yaitu beberapa tahun setelah Romawi menghancurkan bait Allah sekitar tahun 64 M. Justru melalui peristiwa kehancuran Israel itu harapan jaman keemasan semakin bermunculan. Orang-orang Yahudi pada masa itu pasti  sangat merindukan masa kedamaian sebagai bangsa yang utuh dan oleh karena itu harapan akan ratu adil begitu kuat. Dengan demikian, kehancuran bait Allah dan suasana tercerai berai semakin menguatkan dugaan akan harapan munculnya sang ratu adil dan harapan itu tercermin dalam rumusan doa Bapa kami.

Kesimpulan

Doa Bapa kami dalam Injil Matius telah melahirkan dua kelompok yang berbeda pandangan tentang kerajaan surga sekaligus kesamaan ciri pemahaman. Perbedaan itu terletak pada apa sebenarnya yang dimaksud dengan permohonan datanglah kerajaan-Mu. Sedangkan persamaannya ada pada syarat hadirnya kerajaan surga yaitu kasih Allah dan kasih Manusia, serta ada pada konsep sosiologisnya berkaitan dengan ratu adil.  

Konsep ratu adil yang muncul dalam doa adalah buah pemikiran penulis Injil dan interpretasi jemaat akan harapan jaman yang penuh kedamaian seperti di dalam surga. Inti permohonan pada konsep ratu adil adalah harapan akan terbebasnya dari suasana tertekan serta harapan akan jaman keemasan. Kehancuran bait Allah sekitar tahun 64 M telah menguatkan munculnya harapan ini. Hanya saja konsep ratu adil yang dipahami oleh Kristen bukan bersifat pasif. Menunggu ratu adil berarti jemaat harus terlibat mengusahakannya dengan hidup saling mengasihi seperti yang diajarkan oleh Yesus sang Mesias sejati.

 

DAFTAR PUSTAKA

Albright W.F., - Mann C.S.,

            1973    “The Anchor Bible- Matthew”, Double Day & Company, Inc, New York.

 

Brown M.J.,

2014    “The Kure of a Proposition: The Erotic Nature of the Lord’s Prayer as a Contradiction to Coercive Power”, dalam Interpretation: A Journal of Bible and Theology, Vol 68 (I), 28-38.

 

Kartodirjo S.,

1984    “Ratu Adil”, Sinar Harapan, Jakarta.

 

[1] M.J. Brown, “The Kure of a Proposition: The Erotic Nature of the Lord’s Prayer as a Contradiction to Coercive Power”, dalam Interpretation: A Journal of Bible and Theology, Vol 68 (I), 2014, 28-38.

[2] S. Kartodirjo, Ratu Adil, Sinar Harapan, Jakarta, 1984, 10.

[3] S. Kartodirjo, Ratu Adil, 24.

Share :